Pemilih pemula dan Pemilu 2014

Jika dihitung dari bulan September 2013, masih tersisa waktu 8 (delapan) bulan menjelang pelaksanaan pemilihan anggota DPR/DPD/DPRD. Di tengah perhelatan pesta ini, para pemilih pemula yang jumlahnya mencapai 40 juta (dua kali lipat perolehan suara parpol pemenang Pemilu 2009 dan setara dengan angka golput) sangat menentukan masa depan bangsa.

 

Karakteristik pemilih pemula

Apa yang kita ketahui tentang para pemilih pemula ini? Menurut Undang-undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, pemilih adalah Warga Negara Indonesia yang telah genap berumur 17 (tujuh belas) tahun atau lebih atau sudah/pernah kawin. Bertolak dari norma hukum ini, pemilih pemula dapat didefenisikan sebagai para pemilih yang baru pertama kali terdaftar dalam Daftar Pemilih Tetap pemilihan umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (selanjutnya disingkat pemilu legislatif atau pileg). Mereka terdaftar tetapi belum tentu datang ke tempat pemungutan suara (TPS). Atau, mereka datang ke tempat pemungutan suara (TPS) hanya sebagai penonton atau mencoblos dengan benar dan rasional atau mencoblos dengan benar tetapi emosional atau salah mencoblos surat suara sehingga suaranya menjadi tidak sah. Butuh ruang tersendiri untuk membahas perilaku memilih para pemilih pemula ini.

Dalam Pileg 2004, para pemilih pemula adalah warga negara yang lahir pada 1987. Sedangkan dalam Pileg 2009, para pemilih pemula adalah warga negara yang lahir pada 1992. Karena pemilu legislatif dilaksanakan lima tahun sekali, maka warga negara yang lahir dalam periode 1988 – 1992 merupakan para pemilih pemula dalam Pileg 2009. Mereka yang yang lahir dalam kurun waktu 1998 – 1992 berada dalam golongan umur 17 – 21 tahun. Usia 17 (tujuh belas) tahun identik dengan siswa kelas XII SMA/Sederajat. Sedangkan usia 21 (dua puluh satu) identik dengan mahasiswa semester delapan (tahun keempat).

Berapa jumlah populasi penduduk Indonesia yang berusia 17 – 21 tahun? Sulit menjawab pertanyaan ini karena publikasi statistik memiliki penggolongan umur tersendiri. Dalam publikasi Statistik Indonesia 2012 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Republik Indonesia, para pemilih pemula termasuk dalam golongan umur 15 – 19 tahun dan 20 – 24 tahun. Golongan umur 15-19 tahun berjumlah 22.438.903 jiwa dan golongan umur 20-24 tahun mencapai 19.018.911 jiwa (BPS RI, 2012: 126-127). Total populasi penduduk yang berumur 15 – 24 tahun mencapai 41.457.814 jiwa. Data ini tidak sepenuhnya tepat karena batas bawah yang digunakan adalah umur 15 (lima belas) tahun (selisih dua tahun dengan angka 17 tahun yang merupakan batas bawah kelas pemilih pemula) dan 24 (dua puluh empat) tahun (selisih tiga tahun dengan angka 21 yang merupakan batas atas kelas pemilih pemula). Meskipun begitu, data ini tetap memberikan gambaran kasar jumlah populasi pemilih pemula.

Sementara itu, mengacu ke data BKKBN (2013: 56), kelompok para pemilih pemula (17-21 tahun) berada dalam golongan umur 16-21 tahun yang berjumlah 29.855.479 jiwa, atau 13 persen dari total penduduk Indonesia yang bertengger di angka 237.896.180 jiwa. Jumlah populasi penduduk Indonesia menurut BKKBN ini lebih besar dari hasil Sensus Penduduk 2010 yang menunjuk angka 205.132.548 jiwa. Selisih 32.763.632 juta jiwa antara data Sensus Penduduk 2010 dan data BKKBN diduga akibat pertambahan penduduk pada 2011-2012 yang tidak terpotret selama pelaksanaan Sensus Penduduk 2010. Sedangkan menurut Departemen Dalam Negeri, total populasi penduduk Indonesia mencapai 259.940.857 jiwa (Kompas, 19 September 2011). Data BKKBN lebih bisa dipercaya karena pengelompokkan umur (16-21 tahun) yang digunakannya hampir mirip dengan pengelompokkan umur kelas pemilih pemula (17-21 tahun). Yang berbeda hanyalah batas bawahnya. Data BKKBN tersebut berasal dari kegiatan Pendataan Keluarga Tahun 2012 yang berhasil mewawancarai rumah tangga sebanyak 99.21 persen dari 58.900.015 juta rumah tangga di Indonesia. Sayangnya, publikasi BKKBN tidak menyediakan lebih jauh informasi tentang aspek sosial-ekonomi kelompok umur 16-21 tahun.

Meski kurang akurat, publikasi Statistik Indonesia 2012 menyatakan bahwa sebagian besar para pemilih pemula adalah pekerja dan pengangguran terbuka. Jika mereka bukan angkatan kerja, maka mereka bersekolah atau mengurus rumah tangga. Dimensi lain yang diungkapkan publikasi Statistik Indonesia 2012 adalah partisipasi sekolah. Proporsi kelompok umur 15-19 dan 20-24 tahun yang masih sekolah lebih banyak di kota daripada di desa. Sebaliknya, kelompok umur 15-19 dan 20-24 tahun yang tidak sekolah lagi lebih banyak di desa daripada di kota. Proporsi penduduk berumur 15-19 dan 20-24 tahun, baik yang berdomisili di kota dan/atau desa, yang tidak bersekolah lagi lebih banyak daripada mereka yang masih sekolah. Data ini menunjukkan bahwa lokasi geografis (desa versus kota) berpengaruh terhadap partisipasi pendidikan. Bertolak dari fakta ini, maka diduga lokasi geografis juga berpengaruh terhadap partisipasi para pemilih pemula dalam Pileg 2014. Para pemilih pemula mayoritas dihuni warga negara yang berstatus pelajar dan mahasiswa. Karena proporsi penduduk berumur 15-19 dan 20-24 yang berdomisili di perdesaan lebih banyak daripada di kota, maka diperlukan treatment khusus untuk para pemilih pemula yang berdomisili di pedesaan.

Pemilih pemula dan kesenjangan digital

Di era zaman internet seperti dewasa ini, sosok pemilih pemula (pelajar dan mahasiswa) merupakan lapisan masyarakat Indonesia yang paling banyak bersentuhan dengan teknologi komunikasi dan informasi berbasis internet. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia pada 2012 mencapai angka 63 juta. Penetrasinya sudah mencapai 24,23% dari total populasi penduduk Indonesia. Dari total ini, 64.2 persen pengguna internet didominasi usia 12-34. Dari sisi perangkat yang digunakan, 70,1% mengakses internet dari smartphone, 45,4% dari notebook, 41% dari PC, 5,6% dari netbook, dan 3,4% lagi dari tablet. Meningkatnya akses internet secara mobile didorong semakin banyaknya ponsel pintar dengan harga yang kian terjangkau (http://tekno.liputan6.com).

Aktivitas apa yang mereka lakukan tatkala terhubung dengan internet? Menurut hasil survey Kementerian Informasi dan Komunikasi (KEMENINFO), aktivitas yang paling sering dilakukan ketika berselancar di internet adalah (a) membuka situs jejaring sosial (64.43 persen), terutama Facebook; (b) mencari informasi mengenai barang/jasa (48.55 persen); (c) mengirim dan menerima email (47.33 persen); (d) mengunduh film/gambar (46.98 persen); (d) mengirim pesan melalui instant messaging (46.74 persen); (e) melakukan aktivitas belajar (44.34 persen); (f) bermain game (44.01 persen); (f) mencari informasi kesehatan (38.80); (g) membaca atau mengunduh online newspaper (37.70 persen); (h) mencari informasi mengenai organisasi pemerintahan (28.30 persen); (i) mengunduh software (19.41 persen); (j) menjual atau membeli barang dan jasa (15.35 persen); (k) internet banking (11.32 persen); (l) teleconference melalui VoIP (5.60 persen); (m) lainnya (2.96 persen) (Kementerian Informasi dan Komunikasi, 2011:24-25).

Tetapi, kepemilikan dan akses penggunaan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) ini lebih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Fakta ini tidak mengherankan karena mayoritas populasi penduduk dan aktivitas pemerintahan, perdagangan dan industri terkonsentrasi di Pulau Jawa. Data ini menunjukkan bahwa kesenjangan akses dan penggunaan TIK tidak hanya terjadi antar wilayah, antar kelompok umur, tetapi juga dalam sesama kelompok populasi yang memiliki akses dan menggunakan TIK.

Meskipun begitu, tingginya penetrasi teknologi informasi dan komunikasi (TIK) berbasis internet dan dinamisnya hubungan antara para pemilih pemula dengan perkembangan teknologi TIK di Tanah Air merupakan berita gembira yang tak bisa disangkal siapapun. Situasi ini menciptakan peluang bagi bangsa Indonesia di masa depan untuk melaksanakan proses pemilihan umum berbasis elektronik (eElection). Meskipun perlu perubahan seperangkat aturan tentang kepemiluan, partai politik, dan sikap para multipihak terhadap mekanisme ini, tetapi fakta sosiologis bangsa Indonesia hari ini menunjukkan beberapa tahun mendatang kita sudah siap untuk melaksanakan eElection

 

Implikasi bagi pendidikan pemilih pemula

Hari ini, teknologi informasi dan komunikasi memiliki peran sentral dalam kehidupan. Ia menjadi salah satu pilar pemicu terbentuknya masyarakat informasi (Weber, 1995: 7-30). Karena kesenjangan digital yang nyata di Indonesia, maka pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi sebagai instrumen pendidikan para pemilih pemula harus tetap disinergikan dengan instrumen konvensional (misalnya, dialog interaktif, simulasi pencoblosan, produksi dan distribusi selebaran, dan lain sebagainya).

Sehubungan dengan upaya pemanfaatan pendidikan pemilih pemula dalam Pileg 2014, maka beberapa tindakan yang perlu diprioritaskan adalah: (a) pengorganisasian isu di dunia maya melalui pemanfaatan media sosial (misalnya, Facebook, Twitter, pembuatan homepage khusus pemilih pemula). Pengorganisasian isu ini harus diawali dengan pemetaan isu-isu strategis yang berhubungan dengan peningkatan kesadaran dan pengetahuan para pemilih pemula Pileg 2014. Survey cepat tentang karakter perilaku pemilih pemula Pileg 2014 perlu dilakukan di seluruh Tanah Air dengan melibatkan seluruh jejaring multipihak; (b) para pemangku kepentingan Pemilu 2014 perlu melakukan pendekatan khusus dengan pemilik akun-akun Twitter, baik organisasi pemerintah, organisasi swasta, personal, produk, atau komunitas) atau yang memiliki follower ratusan ribu untuk bersinergi dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan para pemilih pemula. Perlu dirancang pertemuan khusus dengan para penggiat dunia maya, baik ditingkat nasional maupun ditingkat daerah (provinsi/kabupaten/kota), sebagai pintu masuk untuk mendorong kontribusi mereka dalam pendidikan politik para pemilih pemula; (c) perlu digagas kerjasama dengan Kemeninfo dan provider jasa komunikasi (Telkom, Telkomsel, Indodat, Bakri Telecom, XL, dan lain-lain) di Indonesia agar bisa memanfaatkan infrastruktur da layanan mereka secara gratis dalam rangka mendorong partisipasi politik para pemilih pemula melalui saluran handphone. Provider bisa mengembangkan content khusus yang berkaitan dengan kepemiluan.

Sementara itu, para pemilih pemula yang belum memiliki akses internet di segenap penjuru Indonesia perlu didekati secara konvensional. Beberapa kegiatan yang memungkinkan terjadinya kontak langsung para pemilih pemula dengan jejaring para pemangku kepentingan Pemilu 2014 perlu dirancang dan dilaksanakan. Program-program peningkatan kesadaran pemilu pemilih pemula yang pernah dilaksanakan beberapa lembaga/organisasi masyarakat menjelang Pileg 1999 dan Pileg 2004 dapat direplikasi dengan beberapa penyesuaian. Para pemilih pemula yang berdomisili di daerah-daerah dan komunitas adat terpencil, memiliki gangguan fisik, berstatus narapidana, bekerja sebagai TKI di luar negeri, pondok pesantren salafiyah, dan bekerja di sektor perdagangan dan industri yang mobilitasnya tinggi (misalnya, sektor transportasi darat, laut, dan udara), juga perlu diperhatikan.

1 Komentar

September 30, 2013 · 1:29 pm

Catatan perjalanan ke Ulak Embacang

Selasa, 4 Mei 2013

Ulak Embacang, kawan, begitu jauh jika ditempuh dengan jalan darat. Jalan kuning, demikian penduduk menyebut jalan poros berwarna kuning, selalu menjebak para pengendara jika hari hujan. Dua jam lebih kami menempuh perjalanan dari simpang empat Macang Sakti. Saya hitung, ada 3 kali driver kami mengaktifkan fasilitas double gardan-nya. Sebelum memasuki perkampungan Ulak Embacang, saya melihat beberapa rompok, tapi saya tidak tahu namanya. Rompok-rompok itu mirip sekali dengan rompok yang ada di Keban 1.

Kami sempat melewati areal perkebunan sawit milik PT. IMB. Kami sempat ragu melanjutkan perjalanan. Untunglah, ada seorang penduduk yang melintas dengan sepeda motor. Tak jauh lagi pak, katanya. Setelah lima menit perjalanan, kami bertemu dengan jembatan beton yang gagah dan kuat yang melintasi Sungai Ampalau. Ada tiga rumah penduduk di sekitar jembatan itu. Kami berhenti untuk meminta informasi lebih jauh. Saya turun dari mobil. Seorang lelaki tua berjalan menghampiri saya. Saya pun terlibat pembicaraan dalam bahasa Sekayu. Tak disangka, yang bersangkutan ternyata salah seorang aparatur pemerintahan desa Ulak Embacang. Perbincangan itu tak lama, hanya 10 menit. Saya tidak perlu menjelaskan siapa dan apa maksud tujuan kedatangan kami, karena beliau aktif bertanya. Jadi, saya tinggal menjawab pertanyaan yang bersangkutan saja. Mendengar penjelasan saya, ia segera menghubungi kepala desa via handphone miliknya. Tak lama kemudian, kami diajak Ketua LPM Ulak Embacang meluncur ke arah pemukiman penduduk.

Dari Jembatan Ampalau, kami melewati jalan kuning sepanjang 1 km. Pemukiman penduduk mulai nampak ketika jalan kuning berganti dengan jalan cor beton. Bangunan pertama yang kami lihat di samping jalan perkampungan adalah kantor kepala desa Ulak Embagang. Bangunannya kelihatannya baru dan belum difungsikan. Semakin ke dalam, semakin banyak rumah panggung yang sudah berumur tua tetapi tetap gagah meski setiap tahun dihantam banjir. Saya tahu itu dari jenis rumahnya yang kebanyakan terbuat dari kayu jenis unglen/ulin/bulian.

Pukul 11.30 WIB, kami tiba di rumah Pak Nawawi (Ketua LPM). Rumah panggung itu cukup ramai karena Pak Nawawi akan menikahkan salah seorang putrinya. Kami sudah menurunkan barang-barang ke rumah Pak Nawawi. Kami makan siang disana. Pukul 14.00 WIB, ada kabar dari Pak Nawawi bahwa sesuai instruksi kades, basecamp akan dipindah ke rumah Kadus 1 (Pak Rusli). Kami setuju saja. Dengan bantuan beberapa penduduk, kami bergotong-royong membawa ‘peralatan tempur’ ke rumah Pak Rusli. Rumah Pak Rusli tak terlalu jauh dari rumah Pak Nawawi, sekitar 30 tombak.

Setiba di rumah Pak Rusli, para driver mohon ijin pamit ke Palembang. Sesuai instruksi dari Trac, dua sopir yang sudah menemani kami selama di Keban 1 dan Ketapat Bening akan diganti dengan sopir baru. Untuk operasional, hanya 1 mobil yang akan ditinggalkan. Dodi dan Zulmudin, demikian nama sopir Trac itu, akan diganti Agus. Kami pun bersalam-salaman dengan sopir itu. Saya hanya meminta agar hubungan persahabatan ini bukan hanya sebatas client dan/atau customers, tetapi lebih dari itu agar setiap orang mengalami proses pencerahan. Sebab, “persahabatan bagai kepompong/mengubah ulat menjadi kupu-kupu”. Para dirver setuju sekali dengan kalimat ini dan berjanji akan saling kontak setibanya di Palembang. Pukul 17.00 WIB, Agus sudah tiba di Ulak Embacang.

Tak perlu kendaraan roda empat untuk mengelilingi desa Ulak Embacang. Ketika temen-temen sedang mempercantik cinderamata, saya turun dari rumah. Dari tangga rumah Pak Rusli, ada sekelompok orang yang sedang duduk di seban (gazeebo) yang terletak di pinggir Sungai Rawas. Saya melangkah ke sana dan berkenalan dengan mereka. Setelah cukup akrab, saya minta bantuan salah seorang dari mereka untuk mengantarkan saya ke kantor/rumah bidan desa. Jam 04.00 sore, saya mengajak Iwan – remaja desa Ulak Embacang yang baru saja saya kenal – silaturrahim ke rumah bidan desa. Rumah bidannya terletak 10 meter dari pinggir Sungai Rawas. Rumah panggung tua itu berumur cokelat tua dan mengkilat. Hanya 1.5 jam saya ngobrol dengan bidannya tanpa gangguan yang berarti, kecuali seorang perempuan tua yang dipanggil ibu bidan dengan istilah nenek. Perempuan itu banyak bertanya, maka saya pun banyak menjawab dengan redaksi yang paling sederhana menurut nalarnya.

17.30 WIB, saya pulang ke basecamp. Saya mampir dulu ke gazeboo (seban) yang ada di pinggir Sungai Rawas. Sekumpulan anak muda sedang antri mandi sore. Mereka membawa peralatan mandi dalam ember. Handuk bergantungan di leher mereka. Mereka hanya mengenakan basahan (telasan) dari sarung bekas dan/atau kain bekas karung gandum. Lima menit kemudian Pak Ahmad Zen – salah seorang toke di Ulak Embacang ikut nimbrung. Rumah Pak Mad Zen – demikian penduduk memanggil lelaki ini – hanya dibatasi jalan setapak dengan gazeboo tempat kami duduk santai menunggu magrib. Saya mendalami lebih jauh soal sumber perekonomian penduduk Ulak Embacang. Dari nalar bicaranya, saya melihat Pak Mad Zen begitu pasrah dengan mekanisme pasar bebas yang mengatur perdagangan karet alam di desa mereka. Ia juga menyesalkan penduduk yang tak mampu memproduksi karet dengan kadar 60 persen. Ia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia hanya pedagang perantara.

Pak Mad Zen cenderung apolitis. Saya tidak akan memilih dalam Pilgub Sumsel 6 Juni 2013, tegasnya didepan beberapa penduduk Ulak Embacang yang nongkrong di seban (gazeebo). Sebab, memilih atau tidak memilih, nasib kita sebagai masyarakat tidak berubah. Saya diam saja mendengar kalimat yang mengandung energi negatif ini. Saya tidak mendengar suara azan magrib. Tapi, jam di handphone saya menunjukkan pukul 18.30 WIB. Saya mohon ijin pamit untuk sholat magrib dulu. Begitu saya turun dari seban, kelompok kecil itu segera membubarkan diri tanpa dikomando.

Sampai di basecamp, saya segera mengambil peralatan mandi. Muallimin, Didik, dan Agus (sopir baru) ternyata sudah duluan pergi ke batang untuk menikmati segarnya air Sungai Rawas. Gelap semakin pekat. Hanya bintang, gemuruh air sungai, dan bau getah basah yang menemani saya mandi di batang.

Hanya Reza dan para bidadari PSKK yang tidak mandi di Sungai Rawas. Saya katakan kepada mereka, di Sumsel ini, jika ada pergantian pangdam, maka pangdam baru harus minum air Sungai Musi. Kita bukan militer. Tetapi, mandi di sungai adalah cara kita – orang-orang yang belajar nasionalisme dari buku teks – untuk mencari makna ibu pertiwi, cinta tanah air, dan merasakan sejenak saja apa yang dirasakan rakyat Indonesia. Sungai Rawas itu Tanah Air-mu juga, sahabat. Sikap urban centrisme itu tidak patut dipelihara karena mayoritas bangsa ini masih berdomisili di pedesaan dengan beragam keterbatasan yang tidak sama dengan kota. Dari sisi praktis, saya tidak kuat dengan bau kalian yang tidak mandi. Para bidadari itu melototkan matanya ke arah saya. Saya tersenyum saja.

Ketegangan yang penuh dengan senda gurau itu mereda ketika Pak Rusli (Kadus 1 Ulak Embacang) mempersilakan kami menyantap makanan malam yang sudah dihidangkan ibu kadus. Menunya: ikan gabus panggang, kecap manis asin yang dicampur dengan bawang goreng, mentimun segar, sambal ikan gabus goreng, dan sayuran. Kami makan dengan semangat. Habis makan malam, saya gerilya lagi. Target saya adalah Pak Hasanudin (mantan ketip) yang sekarang dianggap sebagai salah satu motor penggerak kelompok tarekat Naqsabandiyah di Ulak Embacang.

Lokasi rumah Pak Hasan ada di Dusun 4. Saya mengajak Iwan lagi berkunjung ke rumah Pak Hasan. Setiba di rumah Pak Hasan, empunya rumah tidak ada di rumah. Ia sedang pergi ke rumah tetangga untuk membahas persiapan hari H Pilgub Sumsel. Iwan segera saya minta melobby anak Pak Hasan agar bersedia memanggil bapaknya pulang. Saya katakan kepada Iwan, katakan kepada anak Pak Hasan, ada tamu dari Universitas Sriwijaya ingin silaturahim. Sengaja saya gunakan Unsri, karena takut beliau tidak familiar dengan UGM. Strategi saya berhasil. 10 menit kemudian Pak Hasan muncul dengan langkah tegap. Dalam temaran lampu, saya lihat wajahnya bersinar cerah.

Saya diajak naik ke rumahnya. Rumah panggung yang luas dan besar. Rumah itu tidak dicat warna-warni. Warnanya kecoklatan bercampur warna hitam yang mengkilat. Lima belas menit kami saling berkenalan. Ia memulai percakapan dengan menceritakan keponakannya yang kuliah di Unsri dengan beasiswa Bidik Misi. Saya biarkan beliau bercerita tentang keponakannya. Beliau juga bercerita soal anaknya yang kuliah IAIN Raden Fatah dengan beasiswa Bidik Misi. Melihat arah pembicaraan ini, saya mulai masuk dengan isu pendidikan di Ulak Embacang.

Pak Hasan tipe orang tua yang peduli pendidikan. Ia cuma tamatan Madrasah Ibtidaiyah. Tetapi, ia terus belajar memperbaiki diri sendiri sesuai dengan metode tarekat Naqsabandiyah. Ia ceita banyak soal ajaran tarekat Naqsabandiyah. Intinya, jika mau selamat dunia akhirat, kajilah diri dan ingatlah selalu Allah SWT. Saya pulang dari rumah Pak Hasan pukul 00.00 WIB. Setiba di basecamp, temen-temen sudah tertidur pulas. Saya sendiri tidak bisa langsung tidur.

Masing-masing tidur dengan gayanya. Reza dengan sarung dari Sumatera Barat yang berwarna hijau. Didik dengan sarung hitam mirip kain tradisional daerah Nusa Tenggara. Nia dengan celana batik dan baju korannya. Keke dan Prima dengan celana jeans-nya. Malam itu saya menjadi saksi siapa yang tidur mendengkur dan siapa yang paling banyak mengeluarkan – maaf – kentut tatkala subuh menghampiri Ulak Embacang. Jangan salah lho, lomba kentut itulah yang membuat kebersamaan ini semakin menggoda dijelajah lebih jauh.

Malam ini, mata saya susah tidur. Saya mengambil buku catatan dan mulai menulis di garang rumah sambil menjaga motor Pak Rusli (Kadus 1) yang parkir di halaman depan. Semakin malam, cuaca semakin dingin. Jam 01.00 WIB, sudah 2 kali butiran air menimpa tangan saya. Butiran itu berasal dari uap air yang menempel di atap garang. Genset masih terus berputar. Praktis, hanya basecamp kami yang terang benderang. Kata temen-temen, genset itu awalnya mau dimatikan, tetapi karena saya belum pulang, maka Pak Rusli tetap membiarkannya hidup semalaman.

Kawan, saya duduk sendirian berteman malam. Suara hewan malam bersahut-sahutan menyatu dengan suara genset yang menderu membentuk simponi keheningan. Saya sedang menguras energi untuk mencari makna di setiap lapaz yang diucapkan responden. Sayup-sayup saya mendengar lagi dangdut dari handphone yang dinyanyikan seorang perempuan. Saya turun dari garang rumah sambil membawa senter. Setelah berkeliling sebentar dalam radius 10 meter, saya tidak menemukan siapapun. Saya mengalami halusinasi. Pertanyaannya, mengapa harus dangdut, mengapa bukan Mozart?

Jam 02.00 WIB malam, angin malam semakin dingin. Muallimin bangun dari tidurnya. Ia ke belakang. Terdengar gemercik air dari kamar mandi. Beberapa ayam kampung mulai berkokok. Perutku mulai terasa lapar. Ada roti kacang yang siap disantap. Perut harus diisi sedikit agar mata semakin jreng dan tubuh memiliki energi untuk menahan kelopak mata yang ingin tertutup. Inilah rahasia begadang: ngemil!.

 

Rabu, 5 Mei 2013

Pukul 06.00 WIB, kami sudah bangun. Di atas saya sudah ceritakan bahwa para bidadari tidak ada yang mandi malam. Pagi ini mereka harus mandi, jika tidak ingin kegerahan sepanjang hari. Saya tahu hati mereka berat untuk turun ke batang yang ada di Sungai Rawas. Tapi, mereka tidak punya pilihan.

Para bidadari itu – dengan mulut bawelnya – mengajukan beragam pertanyaan teknis tentang tata cara mandi di batang. Dimana kami berganti baju? Bagaimana dan dimana kami pasang basahan (telesan)? Bagaimana kami mengganti baju di batang? Mereka mempersulit dirinya sendiri. Saya katakan kepada mereka, mandi itu – kapan dan dimanapun tempatnya – adalah menyiramkan air ke seluruh tubuh, titik. Mereka cemberut.

Akhirnya mereka mengenakan telesan yang sudah disiapkan ibu kadus. Mereka pun melangkah ke arah Sungai Rawas. Aloha, juru potretpun mulai beraksi. Klik, klik, klik, suara kamera handphone mengabadikan moment berharga itu. Mereka menuruni 16 anak tangga yang terbuat dari kayu dan bambu untuk sampai ke batang yang mengapung di Sungai Rawas. Tinggi permukaan air dengan tebing mencapai 8 meter. Eng…i…eng, mereka pun sampai di batang yang terbuat dari kayu gelondongan yang diatasnya diberi beberapa keping papan. Pagi ini, batang itu kami monopoli.

Suara air Sungai Rawas yang diambil dengan ember menimbulkan bunyi byur…byur…byur. Air sungai itu mengalir ke tubuh para bidadari yang mungil dan mengigil disentuh udara pagi. Mereka mulai memfungsikan satu per satu alat mandi mereka. Saya sendiri berdiri di belakang menunggu giliran.

“Bang…”, ujar Nia sambil menoleh kanan kiri mencari keberadaan saya.

“Ada apa jeng?”, jawab saya.

“Bang, sini dulu!”, katanya. Ia melambaikan tangan meminta saya mendekat. Saya melangkah ke arahnya.

“Bang, gimana cara menyisir yang dalem-dalem”, katanya setengah berbisik.

“Apanya yang dalem-dalem jeng?”, tanya saya.

“Pokoknya yang dalem-dalem”, jawabnya sambil merengek.

Pagi itu, pikiran saya lagi kosong dan sedang males diajak berpikir yang berat-berat, termasuk menafsirkan makna kalimat Nia. Astaga…beberapa detik kemudian, saya baru connect dengan istilah yang dalem-dalem. Detik itu juga saya berdiri, melonggarkan sarung, dan memperagakan cara menyisir yang dalem-dalem. Melihat gerakan saya, Nia dan Keke tertawa terbahak-bahak. Suara mereka terdengar segar dan renyah, sebugar tubuh mereka yang disiram air Sungai Rawas.

Pukul 08.00, sarapan pagi di mulai. Menunya: nasi goreng, keripik, kemplang, dan ikan gabus goreng. Ada juga teh panas sebagai penutup jamuan. Pukul 09.00 WIB, setelah sarapan pagi, seluruh anggota tim (kualitatif dan kuantitatif) bergerak. Har ini, saya ingin ngobrol lagi dengan Pak Ahmad Zen. Pembicaraan dengan toke karet ini masih terlalu dangkal dan sempat terputus karena magrib.

Rumah Pak Ahmad Zen persis berada di samping basecamp kami. Saya melangkah ke sana. Kuyung Mad – demikian penduduk Ulak Embacang memanggil Pak Ahmad Zen – tidak ada di rumah. Dia sudah berangkat ke kebun karet untuk menanam beberapa bibit karet alam. Pulangnya zuhur nanti, ujar isterinya. Karena di basecamp sepi, saya putuskan mengelilingi desa Ulak Embacang. Selama berkeliling, saya hanya menemukan anak-anak dan para manula. Hanya segelintir rumah penduduk yang penghuninya tidak pergi motong (menyadap) karet. Di beberapa titik, saya melihat aparatur Pemerintahan Desa Ulak Embacang sibuk membuat TPS (Tempat Pemungutan Suara). Pemandangan itu mengingatkan saya bahwa besok adalah hari H Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Selatan 2013. Setelah puas berkeliling, saya kembali ke basecamp. Tim kuantitatif belum ada yang pulang. Tim kualitatif sudah pulang duluan. Informannya tidak ada di rumah semua. Mereka hanya bisa ditemui ba’da zuhur atau ba’da asyar. Pukul 12.00 WIB, satu per satu tim kuantitatif mulai berdatangan ke basecamp. Dari wajah mereka, saya tahu mereka lapar, bukan haus. Mereka tidak mungkin kehausan karena selalu ada sebotol air mineral dalam tas ransel mereka.

Ba’da zuhur, setelah makan siang, saya pergi ke rumah Ahmad Zen. Isterinya mengatakan suaminya sedang tidur siang. Coba ba’da Asyar ke sini lagi, kata isterinya. Saya pun mengiyakan permintaan tersebut. Setelah mikir sejenak, saya putuskan untuk duduk saja menikmati semilir angin di gazeebo depan rumah kuyung Mad Zen. Siang itu cuaca terasa panas. Gazeebo cukup teduh karena bayangan pohon kelapa yang ada disekelilingnya. Hanya 5 menit saya duduk sendirian di gazeebo. Mulai menit ke-6, beberapa anak muda dan orang tua separuh baya ikut duduk di gazeebo. Mereka memang bukan informan, tapi tidak ada salahnya menggali informasi dari mereka. Satu jam ngobrol dengan beberapa penduduk di gazeebo membuat panasnya matahari menjadi tak terasa. Isu seputar Pilgub Sumsel 2013 sering keluar dalam obrolan siang itu. Maklum saja, diantara 6 orang yang duduk di gazeebo siang itu, tiga diantaranya bertugas sebagai tim sukses kandidat. Karena saya dosen FISIP, mereka selalu meminta komentar saya soal topik-topik pemilukada yang sedang didiskusikan. Tetapi, saya selalu menghindar dengan jawaban-jawaban diplomatis.

Pukul 14.00 WIB, saya ijin pamit ke komunitas gazeebo untuk pergi mengasingkan diri ke rumah kosong di depan rumah Pak Rusli. Siang itu, Ulak Embacang terasa panas sekali. Udara siang bersetubuh dengan hembusan angin yang membuat badan terasa gerah. Saya duduk di garang rumah kosong yang ada di depan rumah pak kadus. Saya terjebak dengan matriks kualitatif yang memaksa saya menyatukan kepingan-kepingan informasi sudah dua hari dikumpulkan. Panas menyengat menggoda saya membuka baju yang sudah basah sedikit akibat keringat.

Amin – anak muda yang baru lulus SMA itu – mengampiri. Seperti biasa, ia datang bersahabat. Ia menceritakan aktivitasnya tadi pagi sembari mendiskusikan mimpinya menjadi tentara. Ditengah-tengah perbicangan, anak ini melontarkan ide liar yang – menurut hemat saya – tak seorang pun dapat menolaknya. Idenya sederhana: minum air kelapa muda yang dicampur batu es dan susu. Ia siap memanjat pohon kelapa pak kadus yang ada di depan kami asalkan saya mendapatkan ijin lisan dari pak kadus atau isterinya.

Astaga, saya heran, mengapa saya luput dari ide cerdas ini. Benar kata Ali bin Abi Tholib r.a, kebenaran bisa datang dari mana saja dan dimana saja. Siang itu, Amin baru saja melontarkan ide liar yang benar. Ide Amin memicu nalar advokasi saya.

“Kamu tunggu disini, min. Saya mau ngomong dulu dengan ibu kadus”, ujar saya.

“Siap yung”, jawab Amin.

Saya segera ke basecamp. Para bidadari sedang bercumbu dengan kipas angin. Saya lontarkan ide Amin kepada mereka. Seperti anak kecil yang diberi kembang gula, mereka sontak kegirangan. Saya minta mereka yang ngomong dengan ibu kadus. Mereka setuju. Uppsss…lihatlah, mereka bertiga sedang rapat mendiskusikan teknis menyampaikan ide minum air degan/dogan dengan ibu kadus. Mereka bertiga melangkah ke dapur.

“Bu, pohon kepala di depan rumah itu milik siapa ya? Bisa nggak kami membeli kelapa mudanya?”, tanya Keke.

“Oh…pohon kelapa itu punya saya. Ambil saja kalau mau, tapi panjat sendiri”, jawab ibu kadus.

Dahsyat. Konspirasi para bidadari itu berhasil. Amin memanjat pohon kelapa. Ia mengambil 6 butir kelapa muda. Siang menjelang sore, kami menikmati air kelapa muda yang dicampur susu. Kenikmatan sedikit berkurang karena daging kelapanya tidak muda lagi. Amin ternyata kurang piawai dalam soal meraba, khususnya meraba buah kelapa. Ia harus lebih banyak belajar dalam soal raba-meraba. Sebab, sampai tua, manusia tidak akan lari jauh dari aktivitas meraba, khususnya meraba masa depan.

15.30 WIB, saatnya sholat Asyar. Saya melangkah ke batang untuk berwudhu. Setelah sholat Asyar, saya bergabung kembali ke gazeebo. 15 menit kemudian, orang yang saya tunggu ikut bergabung di gazeebo. Wajah kuyung Mad Zen terlihat segar. Beberapa unit batang di Sungai Rawas mulai ramai oleh penduduk yang sedang mandi. Di gazeebo sore itu, beberapa orang yang hadir ikut memberikan penjelasan yang dikemukakan kuyung Mad Zen. Terkadang, mereka juga tidak setuju dengan argumentasi kuyung Mad Zen. Saya tersenyum dalam hati melihat mereka berpikir kritis. Forum diskusi itu bubar pukul 18.00 WIB tatkala azan Magrib mulai terdengar dari kejauhan. Saya pun pulang ke basecamp untuk sholat Magrib. Sehabis sholat Magrib, saya turun ke batang untuk mandi.

19.30 WIB, basecamp kami kedatangan tamu istimewa, yakni Hasanudin, S.Ag (Kepala Desa Ulak Embacang). Kehadirannya memaksa kami mengundurkan jadwal makan malam meski hidangannya sudah tersaji di depan mata. Setelah sedikit berbasa-basi, Pak Kades langsung saja bercerita tentang desa dan penduduk Ulak Embacang. Kelihatan sekali, ia ingin menumpahkan sesuatu. Saya menangkap gelagat itu. Sembari menahan rasa lapar, saya lemparkan beberapa pertanyaan disela-sela paparan Pak Hasan yang mengalir deras seperti air Sungai Rawas. Pukul 20.30 WIB, Pak Rusli (Kadus I, pemilik basecamp kami) muncul dan mengeluarkan interupsi ke pak kades agar diskusi dihentikan dulu karena anak-anak muda ini belum makan malam. Pak kades setuju dan kami dipersilakan makan malam. Kami mengajak beliau makan malam, tetapi beliau tidak bersedia karena perutnya masih terasa kenyang. Saya makan sedikit khawatir jika pak kades bosan menunggu dan selera makan sudah hilang karena terlalu lapar. Selama diskusi dengan pak kades di session pertama, hanya air putih yang masuk ke perut.

Pukul 21.00 WIB, diskusi dengan pak kades lanjut lagi. Giliran Prima yang mengajukan beberapa pertanyaan ke pak kades. Diskusi session kedua dengan pak kades hanya berlangsung 1 jam. Pukul 22.00 WIB, pak kades pamit karena ingin memantau kesiapan TPS-TPS di Ulak Embacang. Tak lupa, diakhir obrolan, kami berikan cinderamata ke pak kades sebagai kenang-kenangan dari tim PSKK UGM. Setelah pak kades pergi, ruang depan rumah Pak Rusli kembali menjadi milik kami. Tim kuantitatif mulai mengotak-atik kuisioner ditemani kalkulator. Tim kualitatif mulai memegang matriks mereka.

 

Kamis, 6 Mei 2013

Pukul 06.00 WIB, tim kualitatif tidak bekerja lagi. Kami stand by di rumah sembari finalisasi matriks dan narasi kualitatif. Pak Rusli pagi-pagi sekali sudah berangkat ke TPS karena tugasnya sebagai anggota KPPS. Fokus penduduk tertuju kepada pemungutan suara. Tetapi, sebagian kecil penduduk tetap pergi motong parah (menyadap karet). Situasi ini menguntungkan tim kuantitatif yang harus menyelesaikan tugasnya hari ini. Ba’da zuhur, jika hari tidak hujan, kami akan meluncur ke Macang Sakti. Pukul 10.00 WIB, semua tim kuantitatif sudah berkumpul di basecamp. Pekerjaan mereka selesai. Kuisioner itu memang perlu diotak-atik, tetapi nanti sajalah setiba di Macang Sakti. Dua jam menjelang Zuhur, setelah packing barang selesai, semua sepakat ingin mengelilingi desa Ulak Embacang dengan ketek. Saya meminta bantuan Andika – anaknya Pak Rusli – untuk mencari sewaan ketek.

“Keteknya ada dan tidak perlu sewa, cukup ganti ongkos beli solarnya saja”, ujar Andika.

“Kalau begitu, segera ambil keteknya adinda. Kami menunggu di batang itu”, ujar saya sambil menunjuk ke salah satu batang yang mengapung di Sungai Rawas.

Andika bergerak. Saya pun segera memanggil crew PSKK UGM untuk berkumpul di batang. Sepuluh menit kemudian, kami sudah travelling di atas air dengan ketek milik saudara Pak Rusli. Andika yang menjadi driver-nya. Di atas ketek, saya melihat desa Ulak Embacang begitu indah. Rumah panggung berjejer rapi. Deretan pohon kelapa dipinggir Sungai Rawas mengingatkan saya dengan kebiasaan melukis tatkala duduk di sekolah dasar. Para bidadari dan para lanang itu tak henti-hentinya berfoto dengan beragam gaya. Tapi, hati saya sedih karena hampir di setiap sisinya Sungai Rawas mengalami longsor dan mempersempit tanah pemukiman. Dalam jangka panjang, jika longsor ini tidak diatasi, Ulak Embacang hanya akan tinggal nama.

Pukul 12.00 WIB, kami memutuskan kembali ke basecamp. Setibanya di basecamp, makan siang sudah tersaji. Tak perlu diperintah dua kali oleh ibu kadus, kami langsung menyantap jamuan terakhir di Ulak Embacang. Setelah makan siang, tim kuantitatif pamitan dengan Pak Rusli dan isterinya. Intinya, bermaafan dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas bantuan Pak Rusli sekeluarga selama menetap di Ulak Embacang. Tim kualitatif akan dijemput kemudian karena mobilnya cuma satu.

Setelah tim kuantitatif pergi, tepat pukul 13.00 WIB, saya mengajak Alex, Prima, Muallimin, dan isteri Pak Rusli untuk melihat perhitungan suara di TPS. Dari 6 TPS yang ada di Ulak Embacang, 5 dimenangkan Edy Santana Putra dan 1 dimenangkan Herman Deru. Hasil ini tak mengherankan. Sebab, dari informasi yang saya terima, Wabup Musi Banyuasin – Beni Hernedi – turun langsung ke desa-desa untuk mengkampanyekan Edy Santana Putra. Herman Deru bisa merebut 1 TPS karena ia pernah berkunjung ke desa ini satu kali di satu dusun. Herman Deru menang di dusun yang ia kunjungi. Artinya, kontak kandidat secara langsung dengan para pemilih cukup efektif mendongkrak perolehan suara.

Pukul 16.00 WIB, mobil kami tiba di Ulak Embacang. Setelah berpamitan dengan Pak Rusli, kuyung Mad Zen, Iwan, dan Amin, kami segera meluncur ke Macang Sakti. Waktu tempuh hanya 1.5 jam, lebih singkat dari sebelumnya. Sore itu, sinar matahari tidak terlalu panas. Kami berdoa agar hujan jangan turun sebelum kami sampai di Macang Sakti. Pak Agus – driver kami – nampaknya sudah cukup menguasai jalan poros Macang Sakti – Ulak Embacang yang cukup berat untuk dilalui mobil non-double gardan.

7 Komentar

Filed under Kabar berita

Narasi dari Blambangan: sebuah catatan perjalanan

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pemerintah pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melaksanakan ritual tahunan ujian nasional. Karena beragam kesibukan, saya tidak berniat untuk mengawas ujian nasional tahun 2013. Tapi takdir mengatakan lain. Meskipun saya mendaftarkan diri sebagai calon pengawas di detik-detik terakhir rekruitmen pengawas UN 2013 secara online yang dilaksanakan Baliteks Unsri, tetapi keisengan ini menyebabkan saya dikirim ke Kota Muara Dua, ibukota Kabupaten OKU Selatan.

4 April 2013, pukul 5 sore, saya dihubungi pihak Baliteks Unsri via telepon. Mereka meminta kesediaan saya menjadi pengawas ujian nasional di Madrasah Aliyah Blambangan. Saya kaget dan heran mengapa pihak Baliteks Unsri baru menghubungi saya H-1 sebelum pelaksanaan ujian nasional. Saya katakan kepada mereka jika saya bersedia, bagaimana saya berangkat ke Muara Dua, OKU Selatan. Padahal, keberangkatan travel jurusan Palembang – Muaradua adalah pukul 5 sore. Pihak Baliteks Unsri menyerahkan sepenuhnya teknis keberangkatan saya ke Muaradua. Saya katakan kepada pihak Baliteks Unsri, beri waktu saya berpikir sekitar 10 menit untuk memikirkan teknis keberangkatan ke Muaradua. Dalam waktu 10 menit itu, saya menghubungi nomor travel jurusan Palembang – Muaradua, tapi tak satupun yang diangkat. Akhirnya, saya berpikir, tidak ada pilihan lain selain membawa mobil sendiri. Meski terasa berat di hati karena dikejar-kejar sang waktu, tapi karena mengawas ujian nasional merupakan tugas negara, saya pun melangkah dengan yakin.

Pukul 5.30 sore, saya langsung meluncur ke Kantor Baliteks Unsri untuk mengambil beberapa perlengkapan administratif pengawasan ujian nasional. Tak lupa, ini yang sepele tapi penting, saya meminta amunisi selama di perjalanan. Ba’da magrib saya langsung meluncur ke Indralaya untuk menyiapkan pakaian yang akan dibawa ke Muaradua. Setelah mandi, sholat, dan makan malam, pukul 9 semalam saya langsung meluncur ke Muaradua dengan jalur Prabumulih – Baturaja – Martapura. Jalur ini relatif tidak macet karena volume kendaraan yang melintas tidak sepadat di siang hari. Menjelang memasuki wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu, perjalanan saya diwarnai hujan deras beserta angin kencang. Akibatnya, kendaraan yang melaju mengurangi kecepatannya.

Di Kota Prabumulih, saya melewati beberapa lintasan kereta api yang tidak memiliki pintu perlintasan yang dijaga petugas resmi PT. Kereta Api Indonesia. Yang menjaganya adalah beberapa remaja setempat yang sedang memainkan peran seperti Pak Ogah dan Pak Ableh dalam serial film kartun Si Unyil. Fenomena serupa juga saya temui di beberapa desa yang termasuk dalam yuridiksi Kabupaten Ogan Komering Ulu. Jika di Kota Prabumulih, pintu perlintasan yang dijadikan “pos penjagaan”, maka di Kabupaten Ogan Komering Ulu, beberapa ruas jalan yang rusak disulap beberapa remaja sebagai pos pungli (pungutan liar). Beberapa meter dari lobang-lobang yang ada di jalan raya tersebut mereka beri tanda ranting-ranting pohon sebagai sinyal agar sopir mengurangi kecepatan kendaraan mereka.

Pukul 01.00 dinihari, saya tiba di Kota Baturaja. Saya mampir sebentar di “markas besar” temen-temen dosen Universitas Baturaja. Ketika saya datang, mereka sedang asyik nonton film India. Kami sedang rehat, ujar mereka. Sejak pagi tadi, mereka sudah mengotak-atik beragam data untuk menyusun dokumen akreditasi Fakultas Pertanian Universitas Baturaja. Satu jam menonton film India sambil duduk santai dan bercerita ringan, berangsur-angsur kelelahan yang melanda tubuh saya sedikit berkurang. Saya katakan ke temen-temen, film India mungkin memproduksi energi positif bagi penontonnya. Mereka tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan saya.

Pukul 02.00 dinihari, saya pamit kepada mereka untuk melanjutkan lagi perjalanan ke Kota Muaradua. Dari Baturaja, ada dua pilihan jalan untuk sampai ke Muaradua. Pertama, melalui Kecamatan Lengkiti. Dan yang kedua, melalui Kota Martapura. Atas saran teman-teman, saya memilih jalur yang melalui Kota Martapura.

Jalur Martapura – Muaradua malam itu sunyi sekali. Hampir tidak ada mobil yang melintas, baik dari arah Martapura maupun dari arah Muaradua. Semua tampak terlelap dalam buaian cuaca malam dingin. Kondisi jalannya bagus meski agak sempit. Jam 4 subuh baru terlihat beberapa kendaraan barang menuju Muaradua dan/atau Baturaja. Ditengah jalan, ketika alunan bacaan al-Quran mulai terdengar, saya ditelpon salah satu tim Unsri yang sudah terlebih dahulu tiba di Muaradua. Pesannya singkat: saya diminta segera ke Penginapan Widyaloka karena kepala sekolah Madrasah Aliyah Blambangan, Purwanto, S.Pd.i, sudah siap membawa ke lokasi madrasah tersebut. Saya katakan, 30 menit lagi, insya Allah, saya sampai di Penginapan Widyaloka. Dalam hati saya berpikir bahwa pernyataan tim Unsri tadi jelas menunjukkan bahwa saya tidak mengawas di MAN Muaradua seperti tahun lalu. Tahun lalu, saya mengawas UN di MA al-Islamiyah, OKU Selatan. Tetapi, karena siswanya sedikit tempat pelaksanaan ujiannya digabung di MAN Muaradua.

Setibanya di Penginapan Widyaloka, saya langsung disambut Pak Purwanto dan salah seorang tim Unsri. Karena dikejar waktu, kami tidak sempat ngobrol terlalu banyak. Pak Purwanto ditemani salah seorang tim Unsri segera meluncur ke Kantor Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten OKUS. Sedangkan saya mempersiapkan diri untuk menempuh perjalanan ke Blambangan. Menurut info dari Pak Purwanto, Muaradua – Blambangan akan ditempuh selama 2 jam perjalanan. Astaga! Badan saya langsung lemes. Padahal, saya sudah membayangkan untuk memanjakan mata saya yang ngantuk berat di salah satu kamar Penginapan Widyaloka. Ketika mereka berdua pergi, saya langsung pergi ke kamar untuk mandi dan menyiapkan pakaian. Saya segera memutuskan menginap karena terlalu melelahkan jika harus bolak-balik Muaradua – Blambangan.

Tak sampai 1 jam, Pak Purwanto sudah muncul kembali di Penginapan Widayaloka. Saya langsung naik ke mobil tuanya dan duduk di kursi depan disamping Pak Purwanto yang memegang gagang setir. Kami langsung terlibat obrolan santai. Topiknya berkisar mulai dari kondisi jalan, kondisi sekolah, dan informasi pribadi masing-masing. Saya hanya bisa menemani Pak Purwanto ngobrol selama lebih kurang 30 menit. Setelah itu, mata saya tidak bisa diajak kompromi. Seakan ada bandul yang beratnya puluhan kilo bergantung dikelopak mata saya tipis. Saya tertidur lelap. Saking lelapnya, saya tetap tidur ketika mobil yang kami tumpangi melintasi jalan berlobang.

15 menit sebelum sampai di Blambangan, saya terbangun. Saya langsung bertanya ke Pak Purwanto, masih jauhkah Blambangan itu pak? Sudah dekat pak, jawab Pak Purwanto. Mata saya langsung memutar. Yang pertama saya lihat adalah jalan raya yang penuh lobang dan berkelok. Ketika pandangan saya arahkan ke kiri, saya melihat barisan bukit dan lembah yang menghijau di kejauhan. Tak lama kemudian, Pak Purwanto berucap, nah…kita sudah sampai pak. Mobil kami terlihat memasuki perkampungan yang dipenuhi dengan deretan rumah panggung tua yang panjang dan lebar. Sebagian rumah tersebut sudah ditembok dengan batubata di bawahnya sehingga bisa dijadikan tempat tinggal juga.

Tepat pukul 7 pagi, saya tiba di rumah Pak Purwanto yang sederhana. Rumahnya bukan rumah panggung, tapi rumah modern yang terbuat dari batubata. Saya langsung disambut isteri beliau dengan ramah. Setelah menurunkan tas, saya dan Pak Purwanto langsung meluncur ke MA Blambangan. Lokasi sekolah itu tak jauh dari rumah Pak Purwanto. Sewaktu datang tadi, ternyata saya sudah melihatnya, tetapi saya tidak tahu bahwa gedung itu ruang belajar MA Blambangan. Sebab, bentuknya lebih mirip kantor kepala desa dan balai desa. Ternyata, dugaan saya benar, untuk menunjang proses belajar mengajar sehari-hari, MA Blambangan memanfaatkan kantor dan balai desa Blambangan.

Di MA Blambangan, saya disambut delapan orang guru yang berseragam coklat lengkap dengan logo Kabupaten OKU Selatan. Saya katakan, kenalannya nanti saja bapak/ibu, jam 7.30 kita harus memulai ujian nasional. Pak Purwanto mengamini perkataan saya. Salah seorang guru segera memencet bel sebagai pertanda agar siswa-siswi segera masuk ke ruangan. Para guru yang bertugas sebagai pengawas segera mempersiapkan berkas ujian dan membawanya ke kelas. Ujian hari pertama hanya satu mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia. Jam 10.30 WIB, para siswa-siswi sudah harus menyelesaikan tugas mereka menjawab soal-soal Bahasa Indonesia yang dibuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Di MA Blambangan, ada beberapa polisi dari Polsek Buay Runjung. Bahkan, Kapolsek Buay Runjung sempat mampir ke MA Darussalam hingga makan siang bersama di rumah Pak Purwanto.

Dari Kapolsek Buay Runjung, saya tahu bahwa seluruh soal UN SMAN 1 Blambangan sudah didrop di Polsek Buay Runjung. Hanya soal UN MA Blambangan yang belum didrop di Polsek Buay Runjung. Pak Purwanto menceritakan bahwa sewaktu dia mengambil soal hari pertama, dia sudah mengusulkan kepada pihak Unsri agar seluruh soal bisa dibawa ke Blambangan. Tapi, pihak Unsri tidak mengijinkan. Atas dasar itu, saya menjanjikan kepada Pak Purwanto, Kapolsek, dan para guru yang bertugas bahwa saya akan melobi petugas Unsri agar mengijinkan seluruh soal didrop ke Polsek Buay Runjung.

Jam 11.30, saya dan Pak Purwanto meluncur ke Muaradua. Mobil itu ternyata merk-nya Suzuki Carry. Padahal, kami berdua sebetulnya dilanda kelelahan yang sama. Selama perjalanan ke Muaradua, saya kembali disuguhi jalan yang berkelok, jurang yang dalam, kebun kobi, kebun karet, jalan berlobang, jalan yang diaspal mulus di beberapa ruas, dan areal perkebunan pohon mahoni milik Bupati OKU Selatan, Muhtadin Sera’i. Saya sempat tertidur selama di perjalanan meski tidak terlalu lama. Setiba di MAN Muaradua, saya segera menyerahkan  naskah lembar jawaban ujian nasional (LUJN) kepada petugas dari Unsri. Saya juga melobi petugas tersebut agar mengijinkan seluruh soal UN untuk MA Blambangan bisa kami bawa untuk dititip di Polsek Buay Runjung. Setelah proses administrasi selesai dan kami berdua pergi ke mushola MAN Muaradua untuk melaksanakan sholat zuhur. Setelah sholat, kami berdua langsung merebahkan dan tertidur pulas selama 2 jam. Lumayan, kami bisa mengistirahatkan mata selama lebih kurang 2 jam.

Tepat pukul 4 sore, kami segera meluncur pulang ke Blambangan. Tiba di rumah Pak Puwanto sekitar pukul 6.30 WIB. Setelah makan malam, saya langsung menelpon Raniasa Putra yang mengawasi UN di SMAN 1 Blambangan. Dia menginap di rumah kepala sekolah SMAN 1 Blambangan yang lokasinya tak jauh dari rumah Pak Purwanto. Ditemani adik iparnya Pak Purwanto segera meluncur ke tempat Raniasa Putra menginap. Kami disambut pak kepala sekolah SMAN 1 Blambangan dan isterinya. Rumah pak kepsek adalah rumah panggung. Raniasa Putra ditempatkan di lantai atas. Ketika kami ke atas, dia sedang tiduran dengan menggenakan sarung. Obrolannya macam-macam tetapi yang ringan-ringan saja. Pukul 10.00 WIB saya pulang ke rumah Pak Purwanto dan segera pergi tidur.

Saya bangun pukul 06.30 WIB. Judulnya, saya kesiangan. Saya hanya melihat isteri Pak Purwanto sedang menyiapkan sarapan pagi. Saya langsung segera meluncur ke kamar mandi. Saya celupkan tangan saya ke air di bak kamar mandi. Saya terperanjat, air dinginnya sekali seperti air es. Nyali saya untuk mandi pagi langsung kecut. Tapi, saya harus segera mandi karena tugas negara sudah menunggu. Badan saya langsung mengigil akibat air desa Blambangan. Selesai mandi, saya langsung ganti pakaian dan segera meluncur ke sekolah. Setibanya di MA Darussalam, saya sudah melihat para guru dan siswa sudah siap melaksanakan UN hari kedua. Materinya adalah Ekonomi dan Bahasa Inggris.

Tak ada yang menarik diceritakan tentang ujian nasional mata pelajaran Ekonomi. Sebaliknya, ujian nasioal mata pelajaran Bahasa Inggris sangat ‘seksi’ dijadikan shortcut untuk melihat kondisi pendidikan di Indonesia, wa bil khusus di Bumi Sriwijaya.

Seperi tahun sebelumnya, salah satu section dalam soal ujian nasional mata pelajaran Bahasa Inggris adalah listening. Saya lupa berapa jumlah soalnya. Yang saya tahu, pihak sekolah menyiapkan dua unit tape recorder untuk memutar kaset soal listening yang telah disiapkan Kemendikbud. Saya bertanya kepada para guru yang ada, apakah siswa biasa mendapatkan pelajaran listening dari gurunya. Seolah sepakat, mereka semua menjawab tidak tahu. Mereka hanya memberi tahu bahwa guru Bahasa Inggrisnya masih berstatus honor dan sedang bertugas sebagai pengawas ruangan di salah satu SMA lainnya di Kabupaten OKU Selatan. Melihat fasilitas sekolah yang minim, saya merasa yakin bahwa para siswa-siswi tidak pernah mendapatkan pelajaran listening sebelumnya. Jika pun ada, pengalaman listening itu mereka dapatkan melalui lagu-lagu Barat yang ada di handphone mereka.

MA Blambangan adalah madrasah swasta yang dikelola Yayasan Mangkuyudan yang dimiliki penduduk desa Blambangan. Jangankan laboratorium bahasa, ruang kelas pun mereka menumpang di balai desa yang disekat menjadi dua kelas. Kantor kepala desa dijadikan ruang guru. Guru Bahasa Inggris-nya adalah putri asli desa yang pernah kuliah di program studi Bahasa Inggris di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta tetapi drop out. Maka wajar saja jika siswa merasa bingung menghadapi soal listening. Belum lagi mereka selesai memikirkan jawaban soal nomor satu, tape recorder sudah mengeluarkan soal kedua.

Ba’da sholat zuhur, saya dan Pak Zulfikri (salah satu guru MA Blambangan, alumni salah satu pondok pesantren di Solo) mengendarai sepeda motor mengantarkan lembar jawaban ujian nasional ke MAN Muaradua. Jantung saya berdegup kencang karena Pak Zulfikri memacu motor hondra supra fit di atas 60 km/jam ditengah jalan yang penuh lobang. Tubuh saya naik turun akibat guncangan sepeda motor. Tetapi, kecepatan dan perjuangan kami ke Muaradua tak sia-sia. Blambangan – Muaradua bisa ditempuh dalam 1 jam perjalanan. Celakanya, rasa penat di pantat tak bisa dihilangkan dalam jangka waktu 1 jam.

Pulangnya, giliran saya yang menjadi driver. Saya berusaha menikmati jalan yang penuh lobang. Seolah patuh dengan peraturan perundang-undangan, kecepatan motor dipacu maksimal 60 kilometer/jam. Jika jalannya berlobang, kecepatan motor hanya 10 – 20 km/jam. Akibatnya, waktu tempuh perjalanan menjadi 2 jam lebih. Tepat pukul 5 sore, kami tiba di Blambangan dengan selamat. Saya langsung mandi, ganti baju, dan menikmati suasana sore di Blambangan yang diselimuti dengan suasana dingin. Listrik PLN lagi mati. Rumah Pak Purwanto agak gelap dan mesin genset belum dihidupkan. Saya duduk di beranda rumahnya sembari mencari posisi desa Blambangan melalui GPS yang ada di Blackberry. Saya harus menunggu cukup lama untuk menemukan sinyal Telkomsel. Di desa ini, tidak hanya bensin yang langkah, sinyal handphone juga langkah. Hanya ada beberapa titik di dalam desa yang sinyalnya kuat. Setelah sinyal cukup kuat, GPS Blackberry pun memberikan posisi desa Blambangan sebagai berikut: 4°26’37.71S,103°51’13.46E (Latitude: -4.44368, Longitude: 103.85372).

Makam Pangeran Mangkuyudan

Masyarakat desa Blambangan menganggap bahwa mereka merupakan keturunan Pangeran Mangkuyudan. Tidak ada yang tahu persis darimana asal usul Pangeran Mangkuyudan. Tetapi, masyarakat meyakini bahwa sosok yang dikeramatkan masyarakat Blambangan ini berasal dari Pulau Jawa. Jejak yang tersisa dari Pangeran Mangkuyudan hanya, yakni: makam dan tradisi mandi bagi pengantin laki-laki dan perempuan yang keduanya atau salah satu berasal dari desa Blambangan dan/atau akad nikah dan resepsi pernikahan dilaksanakan di desa Blambangan.

Sumber ekonomi

Mayoritas penduduk desa Blambangan adalah petani kopi (kawe). Rata-rata setiap kepala rumah tangga memiliki areal kebun minimal 3 hektar. Selain menanam kopi, mereka juga menanam komoditas padi dua kali setahun. Sebagian lagi, mengubah kebun kopi mereka dengan karet. Beberapa penduduk membuka toko sembako di rumah mereka. Ada juga yang berjualan pulsa handphone dan/atau bensin eceran.

Meskipun rumah panggung mereka lebar dan panjang, tetapi penghuninya sedikit. Di depan rumah Pak Purwanto, misalnya, ada rumah panggung besar yang hanya dihuni sepasang suami isteri yang sudah tua. Seluruh anak-anaknya merantau ke daerah lain (Palembang, Lampung, Jakarta, Baturaja, dan Muaradua). Desa ini, kata adik iparnya Pak Purwanto, hanya ramai jika musim lebaran tiba. Semua penduduk yang merantau akan pulang untuk bersilaturahim dengan keluarga mereka di Blambangan.

Pengangguran? Saya kira, sulit menemukan para pengangguran di desa ini. Bahkan orang tua yang seharusnya sudah masuk dalam kategori pensiunan masih aktif bekerja. Tampaknya, tidak ada nomenklatur pensiun bekerja bagi penduduk desa Blambangan.

Persoalan sosial

Satu-satunya persoalan sosial di desa Blambangan adalah kriminalitas, terutama yang berbentuk pencurian kendaraan bermotor. Bahkan, Kapolsek Buay Rujung memasukkan desa ini dalam kategori ‘merah’. Artinya, tingkat curanmor di desa ini sangat tinggi dan para pelaku curanmor kebanyakan berasal dari desa Blambangan. Pesan Kapolsek Buay Rujung, jangan coba-coba parkir motor di depan rumah yang luput dari pandangan dijamin bakal hilang. Celakanya, penduduk yang kehilangan motor tidak pernah mau melaporkan peristiwa yang menimpa mereka ke petugas kepolisian.

Seorang petugas polisi yang kebetulan mengawas UN bercerita bahwa suatu ketika ia pernah mendatangi rumah penduduk yang kehilangan motor. Dia membujuk agar penduduk tersebut bersedia melaporkan secara resmi ke Polsek Buay Runjung. Apa jawaban penduduk itu? Dia katakan begini: pak polisi, saya memang kehilangan motor. Tetapi, sesungguhnya motor saya itu tidak hilang melainkan hanya berpindah tempat. Saya yakin, jika motor itu memang milik saya, dia akan kembali ke rumah ini dengan wujud yang sama atau berbeda. Pak polisi itu tak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendengar jawaban dari penduduk tersebut.

Jika dilanjutkan lagi, maka argumentasi penduduk tersebut bisa berbunyi seperti ini: peristiwa kehilangan itu menyebabkan kita merasa kehilangan karena kita merasa memiliki sesuatu. Jika kita merasakan bahwa kita tidak memiliki apa-apa dalam kehidupan ini, maka kita tidak akan pernah merasa kehilangan apapun. Inilah mungkin makna kalimat suci Allah SWT: kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi (QS. Al-Baqarah: 255).  

Pemekaran desa

Sebelum 2005, hanya ada satu desa Blambangan di Kecamatan Pembantu Buay Rujung, Kabupaten OKU. Setelah Kabupaten OKU Selatan dimekarkan dari Kabupaten OKU dan Muhtadin Sera’i sebagai Bupati OKU Selatan yang pertama, Buay Rujung ditetapkan sebagai kecamatan defenitif dan desa Blambangan dimekarkan menjadi empat desa, yakni: Desa Bedeng Blambangan, Desa Kagelang Blambangan, Desa Sukajadi Blambangan, dan Desa Prupus Blambangan. Blambangan kemudian dijadikan ibukota Kecamatan Buay Rujung. Jaraknya dari ibukota kabupaten (Muaradua) mencapai 40 kilometer. Sedangkan dari Kota Palembang, jaraknya mencapai 311 kilometer.

Penduduk

Wilayah kultural Blambangan yang secara administratif terbagi menjadi 5 desa memiliki populasi 4.000 ribu jiwa. Etnis mayoritas adalah etnis Daya. Sedangkan, etnis minoritas adalah Jawa, Batak, Ogan, Komering, Lampung, dan suku-suku lain di Sumatera Selatan.

Adat istidat

Mayoritas adat-istiadat masyarakat Blambangan berakar dari ajaran Islam. Mereka mempraktekkan marhaban (acara syukuran kelahiran bayi), tahlilan dan yasinan (doa bersama karena faktor kematian), akad nikah (acara pernikahan). Tetapi, ada juga adat istiadat yang berasal dari kreativitas kolektif masyarakat Blambangan. Contohnya adalah kasus semambangan dan pembagian waris.

Semambangan adalah pernikahan antara seorang bujang dan seorang gadis yang tidak dimulai dengan proses lamaran, serah-serahan, dan resepsi. Tetapi, dimulai dengan tahapan seorang jejaka “membawa” seorang gadis ke rumah salah satu pejabat pemerintahan desa (biasanya rumah kades) dalam wilayah Kabupaten OKU Selatan. Sepasang calon mempelai ini kemudian meminta dinikahkan secara Islam kepada kades tempat mereka menginap. Adat mengatakan, kades tersebut wajib melindungi jiwa raga sepasang kekasih ini. Pak kades kemudian menghubungi orang tua laki-laki dan orang tua gadis. Selanjutnya, dimulailah proses lamaran dari pihak mempelai laki-laki ke mempelai perempuan. Dalam proses negosiasi antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan, posisi keluarga perempuan sangat lemah. Mereka, misalnya, tidak bisa menolak lamaran keluarga laki-laki tersebut. Jika ada kata mufakat diantara dua keluarga, dimulai proses akad nikah. Jika tidak ada kata mufakat diantara dua keluarga, maka pihak perempuan wajib memberikan wali kepada kades tempat kedua mempelai menginap agar pernikahan bisa dilangsungkan.

Semambangan ini tidak sama dengan kawin lari. Sebab, dalam kawin lari, tidak ada proses lamaran, serah-serahan, negosiasi antar keluarga, dan sebagainya. Jika ingin kawin lari, sepasang calon pengantin cukup pergi ke Kantor Urusan Agama (KUA) setempat atau pergi ke rumah ketip dan minta dinikahkan secara Islam. Soal wali, pihak KUA dan ketip yang mengurus semuanya, termasuk mengkomunikasikan ke pihak laki-laki dan pihak perempuan.

Semambangan adalah saluran bagi para muda-mudi di Blambangan untuk memotong rantai birokrasi adat pernikahan yang terkesan berbelit-belit. Bagi kaum muda di Blambangan, ada rasa bangga di hati mereka jika bisa melaksanakan pernikahan dengan mekanisme semambangan. Tentu saja, ketika orang tua tidak setuju dengan jalinan kasih cinta mereka, semambangan adalah pilihan terakhir agar rumah tangga idaman mereka dapat terwujud.

 Ada juga mekanisme pernikahan rasan tuo. Artinya, pihak orang tua bujang/gadis secara aktif mencarikan jodoh buat anak mereka. Tetapi, mekanisme sudah jarang terjadi kecuali untuk para jejaka dan gadis yang kesulitan mendapatkan jodoh alias berstatus bujang tuo dan gadis tuo.

Kasus selanjutnya adalah soal pembagian waris. Fakta mengatakan bahwa seratus persen penduduk desa Blambangan beragama Islam. Menurut pengakuan mereka, nenek moyang mereka yang bernama Pangeran Mangkuyudan beragama Islam. Tetapi, soal waris mereka tidak mengikuti ketentuan pembagian sebagaimana digariskan al-Quran. Dalam adat istiadat masyrakarat Blambangan, anak perempuan tidak punya hak terhadap warisan orang tua mereka. Mereka dapat menerima tetapi tidak bisa menuntut harta warisan peninggalan orang tua mereka. Menurut ketentuan adat, seluruh harta warisan diperuntukkan untuk anak-anak laki-laki. Jika anak perempuan mendapatkan harta warisan, maka hal tersebut merupakan kebijakan personal orang tua masing-masing.

Kondisi ini tercipta karena masyarakat Blambangan melihat status anak laki-laki lebih tinggi ketimbang anak perempuan. Dikaitkan dengan teori feminis, masyarakat Blambangan merupakan masyarakat yang patriarkhis. Warna patriarkhis itu bisa dilihat sampai hari ini. Jika kita duduk sore hari di pinggir jalan kampung, kita akan melihat ibu-ibu pulang dari kebun membawa kayu bakar untuk keperluan sehari-hari rumah tangga mereka. Jika ada kaum bapak yang pergi ke kebun mengambil kayu bakar, maka peristiwa itu kasuistis sekali dan hanya berlaku bagi sedikit laki-laki yang “sadar gender”.

Menuju e-Learning

Hari ketiga, hanya satu mata pelajaran yang diujikan, yakni Matematika. Saya punya banyak waktu untuk berkolaborasi dengan para guru MA Darussalam. Pasca mengawasi UN, saya dan Pak Zulfikri (salah satu guru MA Darussalam) pergi ke SMPN 1 Blambangan (berdiri tahun 1984/1985) untuk mencari sinyal jaringan seluler yang kuat dan stabil. Lokasi sekolah tersebut tak jauh dari tower milik Indosat sehingga sinyalnya kuat. Mulai jam 11.00 – 16.00, saya melatih Pak Zulfikri untuk mengoperasikan Edmodo (salah satu situs e-learning yang mudah dipelajari). Saya puas dengan capaian Pak Zulfikri menguasai Edmodo. Saya yakin, dia sudah siap mentransfer pengetahuan tersebut ke para guru lainnya.

Keraguan Pak Zulfikri soal kemungkinan menerapkan Edmodo hanya tertuju pada satu hal: bagaimana caranya agar siswa-siswi bisa memiliki laptop pribadi. Jawaban saya sederhana: beli! Saya memberikan analogi sederhana sebagai berikut: jika seseorang mau ke syurga atau neraka, orang tersebut harus ikhtiar. Jangan terjebak dengan kata gratis. Pendidikan gratis itu sesungguhnya tidak betul-betul gratis. Sebab, biaya pendidikan gratis itu dibebankan kepada rakyat/masyarakat juga secara tidak langsung. Bersekolah itu Pak Zulfikri, ujar saya, merupakan bagian dari jihad fi sabilillah. Jika kita mengeluarkan uang untuk membeli komputer dalam rangka mendukung proses belajar mengajar anak-anak kita, maka itulah yang dimaksud dengan berjihad dengan harta. Saya sengaja menggunakan terminologi religius karena Pak Zulfikri merupakan salah satu alumni pondok pesantren di Kota Solo, Jawa Tengah.

Habis makan malam, Pak Purwanto bertanya apakah Pak Zulfikri sudah memahami Edmodo. Saya jawab, insya allah pak, rasanya Pak Zulfikri sudah faham. Saya tahu, Pak Purwanto sangat berminat dengan Edmodo. Kami kemudian terlibat diskusi serius soal beragam alternatif untuk menyediakan akses internet bagi SMPN 1 Blambangan. Ketika areal SMPN 1 Blambangan sudah berstatus free Wi-Fi area, maka sumber belajar siswa akan semakin terbuka. Pilihan pertama, tentu saja, melobi beberapa sekolah negeri/swasta di sepanjang jalur Muaradua – Blambang untuk bersama-sama mendesak pihak Telkom agar memperluas jangkauan speedy ke jalur ini. Pilihan kedua, pihak sekolah membeli handphone merk Samsung yang bisa difungsikan sebagai internet access point berbasis wireless. Pilihan ketiga, melobi petugas mobil MPLIK untuk “parkir” di SMPN 1 Blambangan selama proses belajar mengajar berlangsung sehingga areal sekolah berubah menjadi Wi-Fi area. Saya katakan ke Pak Purwanto, pilihan ketiga ini paling realistis dan implementable karena saya pernah melihat satu mobil MPLIK di jalur Blambangan – Muaradua.

MPLIK merupakan salah satu program Kementerian Informasi dan Komunikasi (INFOKOM) yang dipimpin Tifatul Sembiring. Tujuan program ini adalah menyediakan akses internet murah kepada seluruh rakyat Indonesia yang tidak memiliki komputer dan akses internet. Satu unit mobil MPLIK ditugasi melayani satu kecamatan. Artinya, ia harus keluar masuk desa untuk menjangkau para pengguna internet. Tetapi, prakteknya, petugas mobil MPLIK hanya “memarkirkan” mobil MPLIK-nya di satu titik tertentu saja. Sebab, pendapatan petugas mobil MPLIK dari sewa jasa internet selalu lebih kecil daripada bensin yang mereka keluarkan. Padahal, Kementerian Informasi dan Komunikasi tidak menyediakan biaya bensin. Ibarat pepatah Melayu, petugas mobil MPLIK selalu besar pasak daripada tiang.

Hari kamis adalah hari terakhir pelaksanaan UN. Setelah mengantarkan LJUN ke MAN Muaradua, saya akan meluncur pulang ke Indralaya melalui jalur Muaradua – Martapura – Baturaja. Sepanjang perjalanan Blambangan – Muaradua di hari kamis itu, saya akan menunjukkan mobil MPLIK tersebut ke Pak Purwanto. Kami berdua akan sama-sama melobi petugas pengelola mobil MPLIK agar bersedia “parkir” selama proses belajar mengajar di SMPN 1 Blambangan. Jika petugas itu bersedia, maka jalan memanfaatkan Edmodo untuk mendukung proses belajar mengajar di SMPN 1 Belambangan semakin terbuka lebar. Sebab, sekolah itu sudah memiliki 40 unit desktop yang terkoneksi dengan wireless LAN. Edmodo membutuhkan akses internet dan MPLIK menyediakan itu.

Hari terakhir di Blambangan

Malam terakhir di Desa Blambangan, saya tidak bisa kemana-mana. Hujan deras menerpa sejak magrib sampai tengah malam. Saya dan Pak Purwanto melewatkan malam yang dingin itu dengan diskusi beragam topik. Pukul 11.00 WIB, saya pergi tidur.

Hari terakhir ujian nasional, anak-anak MA Blambangan akan menjawab soal geografi dan sosiologi. Sekitar 06.30 WIB, saya, para pengawas ruangan, dan peserta UN sudah di sekolah. Tepat pukul 07.00 WIB, Pak Romadani (polisi dari Polsek Blambangan) membawa soal geografi dan sosiologi. Pukul 07.30, ujian mata pelajaran pertama dimulai. Sampai mata pelajaran kedua, semua berjalan normal.

Tepat pukul 14.00 WIB, saya pamitan dengan Pak Purwanto sekeluarga, guru-guru MA Blambangan, dan aparat kepolisian Polsek Blambangan. Pak Purwanto batal mengantar dengan ke Muaradua, karena mobilnya rusak. Saya diantar Pak Zulfikri dengan roda dua. Sepanjang perjalanan, saya mencari mobil MPLIK yang sehari sebelumnya pernah saya lihat di jalur Blambangan – Muaradua. Tapi, hasilnya nihil. Setelah menyerahkan LJUN ke MAN Muaradua, saya langsung meluncur pulang ke Indralaya melalui jalur Muaradua – Martapura – Baturaja – Prabumulih – Indralaya. Pukul 11.00 WIB malam, saya tiba di rumah dengan selamat.

Refleksi akhir

Berdasarkan fenomena empiris yang saya amati, saya berkesimpulan bahwa sosok negara hadir sangat nyata di Desa Blambangan, Kecamatan Buay Rujung, Kabupten OKU Selatan, Provinsi Sumatera Selatan, Indonesia. Kompor gas, siaran televisi, infrastruktur jalan dan gedung sekolah, listrik, sinyal handphone, pegawai negeri sipil, siswa/siswi SMA/SMP, semuanya menunjukkan sosok negara yang abstrak hadir begitu nyata dalam kehidupan penduduk desa. Maka wacana negara gagal yang diwacanakan segelintir orang di Jakarta sesungguhnya tidak beralasan. Negara kita salah urus, ya. Dan salah urus ini bisa menyebabkan NKRI menjadi negara gagal juga ya. Tetapi, kualitas salah urus yang menghinggapi NKRI hari ini masih kurang bobotnya untuk menyebabkan NKRI terjebak dalam jurang negara gagal. Kaki-kaki NKRI itu menancap kuat dalam kehidupan rakyat Indonesia di pedesaan.

Di desa Blambangan, kehidupan selalu berjalan normal. Beragam profesi penduduk berjalan sesuai dengan rel masing-masing. Di desa ini, salah urus negara itu tercermin dari persoalan infrastruktur jalan yang buruk dan harga BBM yang melonjak menjadi Rp6.000 per liter karena minimnya pasokan BBM dari Palembang. Di luar persoalan ini, tak ada keluhan yang mencuat dari penduduk desa Blambangan. Sebab, ujar salah satu tokoh masyarakat setempat, pembangunan itu bukan hanya bangunan fisik, tetapi juga non-fisik. Kesejahteraan dan kemajuan sebagai tujuan akhir pembangunan merupakan soal rasa (rasa aman, rasa damai, rasa tidak tertekan, rasa berkecupan). Maka, negara yang salah urus itu harus diubah menjadi negara yang diurus dengan benar menurut konstitusi Republik Indonesia. Bagaimana caranya? Kita harus mulai dari mana? Inilah pertanyaan yang menunggu jawaban dalam bentuk aksi nyata dari beragam komponen bangsa Indonesia. Saya optimis, saudara-saudaraku, kita bisa menjadi bangsa yang rahmatan lil alamin.

Catatan ini membuat empat malam di Desa Belambangan yang dingin dan sering mati lampu menjadi lebih berkesan. Kesan seorang anak bangsa yang eksistensinya dalam rimba kekuasaan negara ibarat sebuah ranting kayu yang tua dan kering ditengah belantara hutan dengan pepohonan yang besar, rindang, kokoh dan tinggi menjulang. Semoga para pembaca budiman sekalian tercerahkan, terinspirasi dan tidak menganggap tulisan ini hanya ilusi belaka.

Tak lupa, saya mengucapkan terima kasih atas keramahan keluarga besar Pak Purwanto dan MA Belambangan selama saya menetap di situ. Semoga silaturahim ini selalu terjaga dan memproduksi manfaat bagi kedua belah pihak. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Rektor Universitas Sriwijaya yang telah mengirim saya ke Desa Belambangan sebagai pengawas tingkat satuan pendidikan dalam event Pengawasan Ujian Nasional SMA/Sederajat Tahun 2013.

12 Komentar

Filed under Kabar berita

The Character of School governance in South Sumatera, Indonesia

Character of school governance in South Sumatera, Indonesia

1 Komentar

Filed under Jurnal ilmiah

Apakah pemilukada itu?

Suhu politik di Sumatera Selatan lagi memanas. Pemicunya adalah pilkada serentak yang akan digelar 2013. Ketika mendiskusikan pilkada, banyak orang terfokus pada persoalan siapa kandidatnya dan bagaimana peluangnya, berapa dana yang dimilikinya, bagaimana tim pemenangannya, dan bagaimana isu politik diproduksinya.
Tulisan ini juga bermaksud mendiskusikan pilkada dengan fokus ke pertanyaan: apakah pilkada itu? Melalui pertanyaan ini, saya ingin menunjukkan bagaimana pilkada dipahami secara berbeda oleh beragam pelaku yang terlibat di dalamnya, baik aktif maupun pasif.

Subyek pilkada
Pilkada melibatkan beberapa aktor yakni partai politik, para pemilih, eksekutif, legislatif, birokrasi, mahkamah konstitusi, Polri, wartawan, industri media massa, tim pemenangan, penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu), pemantau pilkada, lembaga konsultan politik, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, dan lembaga swadaya masyarakat.
Konstelasi aktor di atas menunjukkan pilkada bukan hanya pesta demokrasi elitis. Pilkada adalah pesta mahal yang melibatkan banyak aktor yang peran-perannya dijamin konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sebagian aktor mungkin sepakat bahwa pilkada harus memenuhi prinsip-prinsip pemilu: luber dan jurdil. Sebagian lagi mungkin meyakini bahwa prinsip-prinsip ini hanya berlaku di atas kertas dan tak perlu dijadikan pedoman berpemilu. Sisanya adalah mereka yang tidak memiliki sikap dan tidak memiliki keyakinan.

Makna pilkada
Setiap aktor akan melihat pilkada dengan sudut pandang masing-masing. Sudut pandang ini dipengaruhi oleh latar belakang sosiologis dan kepentingan ekonomi-politik sang aktor terhadap proses dan hasil akhir pilkada. Mari kita lihat tafsir pilkada dari sudut pandang setiap aktor.
Pertama, partai politik. Bagi parpol, pilkada merupakan momentum untuk menempatkan kader terbaiknya di lembaga eksekutif. Faktanya, tidak semua parpol memiliki ‘kader terbaik’ yang cukup populer dan elektabel untuk ditempatkan di lembaga eksekutif. Akibatnya, tak heran jika parpol-parpol seperti ini hanya sebatas menyewakan kendaraan mereka kepada para kandidat pilkada. Kecenderungan ini tidak hanya berlaku bagi parpol besar (memiliki kursi di lembaga legislatif), tetapi juga bagi parpol gurem (parpol yang tidak lolos parliamentary treshold).
Kedua, para pemilih. Pemilih pilkada di Indonesia bisa dibedakan menjadi tiga jenis, yakni: pemilih emosional, pemilih rasional, dan pemilih golput. Bagi pemilih emosional, pilkada merupakan momentum untuk melakukan praktek-praktek politik transaksional. Para pemilih seperti ini tak bisa mengunyah dan menelan beragam isu politik yang diproduksi para kandidat. Bagi mereka, yang terpenting adalah bagaimana memperoleh sesuatu yang konkrit dari kandidat.
Bagi pemilih rasional, pilkada merupakan momentum untuk mempengaruhi perubahan masyarakat hari ini dan di masa mendatang. Karenanya, visi, misi, dan program kerja yang disampaikan kandidat sangat bermakna. Meskipun proporsi pemilih rasional relatif kecil, tetapi mereka selalu ada ditengah arus pemilih pilkada yang cenderung emosional.
Bagi pemilih golput, pilkada adalah momentum untuk menunjukkan eksistensi kelompok mereka, terutama mereka yang golput secara sadar sebagai bentuk perlawanan sosial. Tetapi ada juga yang golput karena memang tidak peduli dengan pilkada.
Ketiga, eksekutif. Bagi eksekutif di provinsi dan kabupaten/kota yang berstatus kandidat incumbent, pilkada merupakan saat yang paling tepat untuk mensyiarkan prestasi mereka dalam menyelenggarakan kekuasaan politik. Dengan kekuasaan politik ditangannya, ia memiliki kemampuan untuk menggerakkan simpul-simpul sumberdaya dalam menopang perjuangannya mempertahankan kekuasaan.
Keempat, legislatif. Selain mengesahkan anggaran pilkada yang diusulkan komisi pemilihan umum melalui panitia anggaran eksekutif, memfasilitasi penyampaian visi dan misi kandidat, memfasilitasi pelantikan bupati dan wakil bupati terpilih, peran lembaga legislatif dalam pilkada hampir tidak ada. Tetapi, para politisi di lembaga legislatif selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tim pemenangan kandidat yang mereka usung.
Kelima, birokrasi. Normanya, lembaga birokrasi publik tidak boleh terlibat dalam politik praktis. Faktanya, banyak para pegawai negeri sipil yang terseret arus pilkada. Keterlibatan para pegawai negeri sipil dalam tim pemenangan kandidat ditafsirkan sebagai manifestasi loyalitas kepada atasan. Keterlibatan para pegawai negeri sipil ini diwarnai beragam pamrih, terutama soal stabilitas karir. Bagi pegawai negeri sipil, pilkada merupakan awal kompetisi menempati jabatan struktural di lingkungan pemerintah daerah. Yang beruntung (karena mendukung kandidat yang menang) akan di-lantik, yang kurang beruntung (karena mendukung kandidat yang kalah) akan di-lantak.
Keenam, mahkamah konstitusi. Melalui proses peradilan yang objektif, Mahkamah Konstitusi memberikan keputusan final dan mengikat bagi kandidat yang berselisih soal hasil akhir perhitungan suara pilkada. Keputusan MK memberikan legitimasi hukum bagi proses-proses administrasi dan politik yang akan ditempuh aktor-aktor pilkada selanjutnya. Tak jarang, ekspektasi kandidat dan parpol terhadap MK terlalu tinggi. Misalnya, MK diharapkan dapat membatalkan kemenangan seorang kandidat dalam pilkada tertentu. Padahal, MK hanya bertugas menyelesaikan perselisihan hasil perhitungan suara yang signifikan mempengaruhi kemenangan seseorang.
Ketujuh, Polri. Meskipun saat ini pihak “Polri” sedang bermuram durja karena kasus korupsi simulator SIM, tetapi fakta ini tidak bisa menutupi peran strategis polri sebagai salah satu pengawal pesta pilkada. Sebagaimana penjaga ketertiban dan keamanan, polri terlibat dalam pilkada sejak penetapan kandidat pilkada oleh KPU sampai dengan pelantikan. Di saat hari H pilkada, personil polisi selalu siaga di desa/kelurahan. Para polisi ini tidak hanya menjaga dan mengawai proses pemungutan suara yang terjadi di TPS. Mereka juga mengumpulkan informasi perolehan suara di TPS. Praktis, ibarat lembaga survey yang melakukan real count, dalam hitungan beberapa jam setelah pemungutan suara, pihak kepolisian sudah mengetahui kandidat mana yang menang dan kandidat mana yang kalah. Tentu saja, mereka tidak berani mengekspos informasi tersebut ke publik karena tugas tersebut bukan tupoksi mereka. Informasi ini berguna untuk memetakan siapa yang harus dijaga dan siapa yang harus diawasi pasca pemungutan suara sampai pengumuman resmi dari KPUD.
Kedelapan, wartawan dan media massa. Di era politik pencitraan seperti sekarang ini, para kuli tinta yang bekerja di industri media massa menempati “ruang khusus” di mata kontestan pilkada. Tanpa media massa, para kandidat akan kesulitan untuk berkomunikasi dengan para pemilih yang beragam. Saking khususnya para wartawan ini, mayoritas kandidat menyediakan media center bagi mereka yang bertandang ke markas tim pemenangan. Sementara itu, bagi wartawan dan media massa, pilkada ibarat musim panen padi. Di musim pilkada, pendapatan industri media massa meningkat dua kali karena maraknya advetorial komersial yang didanai kandidat. Tak jarang, beberapa freelance journalist ikut ketiban rejeki karena harus membantu publikasi kandidat tertentu.
Kesembilan, tim pemenangan. Untuk menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah, para kandidat tidak bisa bekerja sendirian. Geografis yang luas dan para pemilih yang tersegmentasi memproduksi arena pertempuran yang beragam. Konsekuensinya, pasukan tempur harus variatif. Tim pemenangan adalah prajurit tempurnya para kandidat. Lazimnya, ada prajurit yang berstatus jenderal, ada juga berstatus palang pintu. Ada prajurit yang terlatih, ada juga yang tidak terlatih. Uniknya, meskipun tim pemenangan bisa dianalogikan dengan pasukan perang, tetapi ia tidak bisa dikelola dengan cara-cara militer. Sebab, ada demokrasi (perbedaan pendapat, diskusi, debat, dialog, musyawarah, dan lain sebagainya) yang mewarnai tim pemenangan.
Motivasi individu masuk ke tim pemenangan sangat beragam. Ada yang ideologis karena memiliki hubungan khusus dengan kandidat. Ada yang pragmatis karena memiliki kepentingan ekonomi-politik tertentu dari kandidat. Ada juga yang ikut-ikutan karena terseret arus pilkada yang begitu kuat. Ragam motivasi ini melahirkan makna pilkada yang dikonstruksi dan dihayati anggota tim pemenangan secara berbeda. Orang-orang yang tergabung dalam tim pemenangan itu fisiknya sama, tetapi ruhnya berbeda.
Kesepuluh, penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu). Dalam pilkada, lembaga penyelenggara pemilu adalah juri/wasit. Ibarat wasit pertandingan sepakbola, mereka juga harus berlari kesana kemari. Nafas mereka juga ngos-ngosan. Tetapi, melalui pemilu mereka mendapatkan honor tambahan resmi diluar gaji yang diterima setiap bulannya. Bagi penyelenggara pemilu, pilkada merupakan musim kerja ekstra keras.
Kesebelas, pemantau pilkada. Pemantau pilkada adalah penonton pilkada yang paling aktif karena keseriusan mereka menyambut pilkada. Mereka memproduksi second opinion terkait pemenuhan penyelenggaraan pilkada yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Meski opini mereka tidak bisa mempengaruhi proses politik yang berjalan, tetapi hasil kerja mereka merupakan raw material bagi perbaikan pilkada berikutnya. Dalam beberapa kasus, baju “pemantau pilkada” bisa menjadi modus para kandidat untuk memperbanyak sel-sel tim pemenangan.
Keduabelas, lembaga konsultan politik. Pasca Orde Baru, panggung politik Indonesia diwarnai dengan hadirnya aktor baru, yakni lembaga konsultan politik. Tugas mereka membantu para kandidat untuk memetakan perilaku para pemilih, isu strategis, pilihan strategi pemenangan, dan politik pencitraan. Bagi lembaga konsultan politik, politik bukan hanya soal gimmick. Politik adalah fenomena bilangan matematika yang bisa dimanipulasi dengan treatment tertentu. Bukankah hasil akhir pilkada berupa angka? Berbekal teori politik dan metode riset kuantitatif, lembaga konsultan politik mengais rejeki secara profesional melalui serangkaian pendampingan kepada para kandidat pilkada. Prediksi mereka kadang tepat, kadang meleset. Tetapi, kehadiran mereka dibutuhkan oleh para kandidat yang tak sempat berpikir reflektif dan kontemplatif karena sibuk bersilaturahmi dengan para pemilih.
Ketigabelas, tokoh masyarakat. Ketika beberapa orang berkumpul, selalu ada diantara mereka sosok yang berpengaruh luas ditengah kelompok tersebut. Inilah defenisi sederhana konsep tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat ada yang formal (misalnya, kepala desa dan ketip) dan ada yang informal (toke, orang pintar, ulama). Bagi kelompok ini, pilkada adalah musim datangnya tamu istimewa. Betapa tidak, menjelang pilkada, kediaman pribadi mereka akan dibanjiri dengan kunjungan istimewa dari para kandidat dan tim pemenangan mereka.
Keempatbelas, organisasi masyarakat/lembaga swadaya masyarakat. Sama seperti tokoh masyarakat, organisasi masyarakat/lembaga swadaya masyarakat menjadi sasaran empuk para kandidat untuk membangun sel-sel tim pemenangan. Ada organisasi masyarakat/lembaga swadaya masyarakat yang memegang teguh komitmen politik dengan para kandidat. Tetapi, ada juga organisasi masyarakat/lembaga swadaya masyarakat yang oportunis dan berwatak mencari keuntungan (rent seeking) sesaat. Bagi organisasi masyarakat/lembaga swadaya masyarakat, pilkada adalah momentum untuk keluar sejenak dari rutinitas yang selama ini mereka tekuni.
Kelimabelas, pelaku bisnis. Bagi para pengusaha yang bisnisnya tidak bergantung kepada pemerintah, pilkada tak lebih hanya sebatas momentum untuk menyalurkan hak dan kewajiban politik mereka. Tetapi, bagi para pengusaha yang bisnisnya bergantung kepada pemerintah, pilkada merupakan momentum untuk “mengamankan” keberlangsungan usaha mereka dengan cara menawarkan beragam bantuan kepada kandidat. Karena motif pengusaha adalah profit, maka strategi politik dua kaki, tiga kaki, dan empat kaki, adalah hal biasa yang dilakukan banyak pengusaha. Singkat kata, siapapun pemenang pilkada, mereka juga menang. Follow the winer, ujar mereka.
Narasi di atas menunjukkan bahwa penyelenggara pemilu (KPU dan Bawaslu), kandidat, dan para pemilih, bukanlah pemain tunggal dalam pilkada. Meskipun mereka pemain utama, tetapi mereka tidak bisa mendominasi permainan. Aktor-aktor pilkada sebagaimana dijelaskan di atas akan selalu hadir dan memberikan warna tersendiri dalam setiap penyelenggaraan pilkada. Semoga tulisan ini menginspirasi para aktor di atas agar lebih meningkatkan kualitas peran mereka dalam penyelenggaraan pilkada dan proses demokratisasi di aras lokal.

*) Tulisan di atas dimuat di rubrik Panggung Demokrasi, suplemen pilkada, SKH Sumatera Ekspres, 23 Oktober 2012.

4 Komentar

Filed under Opini

DIMENSI SOSIAL-POLITIK SEA GAMES XXVI

Jika tidak ada aral melintang, Sumatera Selatan akan menjadi tuan rumah penyelenggaraan SEA GAMES XXVI. Apa yang menarik ditelaah dari moment kompetisi olahraga tingkat Asia Tenggara ini? Tulisan ini akan menjelaskan dimensi sosial-politik pelaksanaan Sea Games XXVI. Kehadiran tulisan ini diharapkan dapat memberikan spektrum pemikiran yang luas dalam rangka memahami pelaksanaan event-event olahraga, baik skala lokal, nasional, regional, dan internasional.

 

Warisan sejarah

Olahraga sebagai bentuk olah fisik dan permainan hampir bisa ditemukan disetiap peradaban bangsa di seluruh dunia. Beragam permainan dengan menggunakan bola, beragam jenis bela diri, atletik, renang, dan berkuda merupakan sedikit contoh cabang olahraga yang sudah berusia ratusan tahun dan mengakar pada tradisi kebudayaan tertentu.

Olahraga itu penting untuk mengasah ketangkasan dan kebugaran fisik, serta kesehatan jiwa. Bahkan, beberapa jenis beladiri yang berkembang di Indonesia, Jepang, dan China sarat dengan dimensi spritual.

 

Olahraga sebagai urusan publik

Dewasa ini hampir semua negara memiliki departemen khusus yang menangani sektor olahraga. Mengapa negara ikut campur dalam mengelola olahraga, padahal ia bisa diorganisir dengan swakelola oleh warga masyarakat? Menurut Bergsgard, et.al., (2007: 3-4), negara harus terlibat karena olahraga tidak hanya mengandung isu kesehatan fisik dan jiwa semata, tetapi juga isu sosial, ekonomi, dan politik.

Dari sisi sosial, masyarakat modern tetap melihat olahraga sebagai bagian penting dari gaya hidup mereka. Keberadaan fasilitas olahraga yang modern sama pentingnya dengan tuntutan akan jaminan penyediaan sembako. Dalam kasus negara-negara yang multi-etnik, multi-bahasa, dan multi-budaya (contohnya, bekas negara Uni Sovyet dan Yugoslavia), olahraga merupakan instrumen identitas nasional. Kehadiran tim nasional multi-etnik yang berlaga di kompetisi internasional memproduksi identitas nasional baru yang memperkuat integrasi bangsa. Di negara-negara maju, olahraga merupakan sarana untuk mengatasi beragam persoalan sosial (fragmentasi komunitas, kegemukan anak, kenakalan remaja).

Olahraga juga memiliki dimensi politik. Bagi negara-negara komunis, olahraga merupakan instrumen untuk mendemonstrasikan keunggulan ideologi sosialisme atas ideologi kapitalisme liberal. Dalam kasus hubungan internasional, olahraga seringkali menjadi area pertarungan politik diplomatik antar negara. Sebagai contoh, pada tahun 1980, Pemerintah Amerika Serikat memboikot Olimpiade yang diadakan di Moscow, Uni Sovyet. Contoh lainnya, pada tahun 1993, DPR Amerika Serikat (the US House of Representative) mendukung proposal penolakan Beijing sebagai tuan rumah pelaksanaan Olimpiade 2000 (Houlihan, 1997: 2).

Sedangkan dari sisi ekonomi, perhelatan olahraga modern tak bisa dilepaskan dari upaya penciptaan lapangan kerja, investasi modal, dan regenerasi wilayah perkotaan dan pedesaan. Singkat kata, olahraga merupakan salah satu pilihan kebijakan yang diambil pemerintah untuk mendorong pembangunan ekonomi.

 

Olahraga dan pembangunan ekonomi

Pembangunan pusat-pusat olahraga dan pegaleran event-event berskala nasional dan internasional tak bisa dilepaskan dari motif pembangunan ekonomi. Menurut Hoye, Nicholson, dan Houlihan (2010: 133-153), ada tiga alasan rasional dibalik kecenderungan pemerintah untuk membangun pusat-pusat olahraga dan menggelar event-event kejuaraan internasional, yakni: alasan ekonomi dan prestise sosial.

Masih segar dalam ingatan kita kondisi wilayah Jakabaring sebelum pelaksanaan PON di Sumatera Selatan beberapa waktu lalu. Tetapi, setelah pelaksanaan PON, wilayah Jakabaring menjelma menjadi wilayah perkotaan baru. Situasi ini menggambarkan terjadinya proses urban and rural regeneration.

Pelaksanaan Sea Games ke-26 akan mendorong penciptaan lapangan kerja. Pembangunan infrastruktur fisik membutuhkan tenaga kerja dan investasi modal yang tak sedikit. Begitu pula dengan tenaga kerja yang terserap pada saat pelaksanaan kegiatan tersebut.

Kegiatan ini akan mendorong datangnya ribuan wisatawan domestik dan asing ke Sumatera Selatan. Konsekuensinya, dibutuhnya banyak kamar hotel, ketersediaan sembako, dan fasilitas hiburan selama mereka menetap di Sumatera Selatan. Penyediaan fasilitas pendukung ini jelas melibatkan sektor non-olahraga yang mulai berkembang cukup positif dan signifikan di Kota Palembang.

Pelaksanaan event-event olahraga internasional juga terkait dengan prestise kota/daerah dimana event internasional itu dilaksanakan. Dalam bahasa sederhana, pelaksanaan Sea Games ke-26 akan mendorong promosi Sumatera Selatan sebagai salah satu tujuan wisata internasional, menaikkan status Sumatera Selatan di mata dunia internasional, dan membuka akses Sumatera Selatan ke pergaulan internasional secara lebih intensif.

Salah satu contoh negara yang mampu memanfaatkan pelaksanaan event olahraga internasional sebagai katalisator pembangunan ekonomi adalah Qatar. Pada tahun 2006, Qatar menjadi tuan rumah pelaksanaan Asian Games (event olahraga internasional terbesar kedua setelah Olimpiade) yang melibatkan 12.500 atlet yang berasal dari 39 cabang olahraga. Qatar menyiapkan 44 venues di Kota Doha yang sudah dirombak total. Penyelenggaraan Asian Games dipilih elit politik Qatar karena ia adalah cara cepat untuk menjadi bagian dan menjalin persahabatan dengan negara-negara di dunia. Bagi elit politik Qatar, tak ada peradaban tanpa olahraga (Hoye, Nicholson, dan Houlihan, 2010: 138).

Karena manfaat nyata event-event kejuaraan internasional terhadap pembangunan ekonomi sangat nyata, maka setiap negara berkompetisi untuk menjadi tuan rumah (host). Event internasional sekaliber Olimpiade dan Asian Games menerapkan parameter yang sangat ketat kepada setiap negara yang berkeinginan untuk mengikuti lelang tuan rumah Olimpiade dan Asian Games. Setiap negara harus menunjukkan kemampuan manfaat event tersebut bagi perbaikan seluruh dimensi kehidupan penduduk mereka.

 

Olahraga sebagai industri modern

Apa persamaan subtantif antara pertunjukkan gladiator di Zaman Romawi kuno dengan pertandingan Sriwijaya FC versus Persipura dalam rangka Indonesia Super League? Keduanya merupakan kegiatan olahraga yang bernuansa entertainment yang dibalut dengan unsur kompetitif.

Indonesia Super League adalah contoh bagaimana pertandingan olahraga dikemas sebagai salah satu bisnis hiburan yang sarat modal. Komoditas yang diperjual-belikan memiliki potensi pasar yang jelas dan signifikan. Hanya karena umurnya yang masih belia, kualitas komoditas dan perputaran modal di Indonesia Super League masih kalah jauh dengan Premier League di Inggris, Bundesliga di Jerman, dan La Liga di Italia.

Sebagai salah satu bentuk industri hiburan, olahraga memproduksi public figure yang sangat populer di mata masyarakat. Para atlet tak ubahnya seperti artis film dan sinetron yang diburu tanda-tangannya.

Sebagai industri modern, olahraga merupakan hiburan. Hiburan akan semakin berkembang dari waktu ke waktu. Setiap generasi memiliki hiburannya sendiri. Tetapi, industri modern mensyaratkan prinsip tak ada hiburan gratis. Komersialisasi pertunjukkan olahraga menjadi tak terelakkan tatkala keberlangsungan olahraga harus ditopang oleh dan dari pencinta olahraga tersebut.

Argumentasi ini bisa menjelaskan mengapa perkembangan futsal di seluruh Tanah Air berkembang sangat cepat mengalahkan cabang-cabang olahraga lainnya. Meskipun umurnya relatif masih baru, tetapi tingginya permintaan menyebabkan para pemilik bersedia menanamkan modalnya untuk membangun gedung tempat bermain futsal yang modern, megah, mewah, dan nyaman.

Andaikata setiap cabang olahraga memiliki potensi pasar sepertinya futsal, maka pemerintah pusat dan pemerintah daerah tak perlu repot-repot untuk menyediakan dana APBD dalam rangka mendorong olahraga rekreasi dan olahraga amtir. Pemerintah cukup fokus menggunakan dana APBD untuk menangani olahraga pendidikan dan olahraga prestasi.

 

Agenda pasca Sea Games

Selanjutnya, yang perlu juga diperhatikan adalah perihal penanganan pasca pelaksanaan Sea Games ke-26. Gedung-gedung olahraga butuh perawatan. Pengembangan atlet perlu terus dilakukan. Siapa yang harus menanggung beban seberat ini? Siapa harus melakukan apa setelah Sumatera Selatan sukses melaksanakan Sea Games ke-26?

Secara normatif, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional secara tersirat menyebut multi-pihak (pemerintah, komunitas pencinta olahraga, dunia usaha, media massa, dan lain-lain) sebagai aktor-aktor yang harus peduli dengan olahraga di Tanah Air. Diantara aktor-aktor ini yang paling powerful adalah institusi pemerintah karena faktor kepemilikan sumberdaya dan otoritas politik. Tetapi fakta mengatakan dana APBD tak bisa dijadikan sumber penopang utama pengembangan dunia olahraga.

Selama ini sumberdaya pemerintah daerah kebanyakan dialokasikan untuk membiayai olahraga pendidikan dan olahraga prestasi. Sedangkan olahraga rekreasi tetap berjalan berdasarkan prinsip-prinsip kerelawanan (voluntary). Lihatlah, khususnya di Sumatera Selatan, dalam dua belas bulan selalu ada musim bermain bola kaki, musim bermain bola volley, musim bermain badminton, musim lomba bidar, musim lomba marathon, dan sebagainya. Kecenderungan ini menunjukkan potensi olahraga rekreasi sebagai rumah pengembangan atlet (elite sport development) jika mekanisme kerelawanan dikelola secara profesional.

Selain dana, persoalan lain yang menghadang pengembangan dunia olahraga adalah pelanggaran the right man on the rigt job. Kebanyakan para pengurus cabang olahraga dipegang oleh birokrat senior dan/atau politisi. Situasi ini dijustifikasi dengan alasan lobi dan akses ke fasilitas pemerintah. Dengan kesibukan para birokrat dan/atau para politisi, tak heran jika pengembangan cabang olahraga prestasi terkesan megap-megap di banyak kabupaten/kota.

Poin penting lainnya yang harus dilakukan pasca pelaksanaan Sea Games adalah mensinergikan arah kebijakan dan program di sektor olahraga pemerintah provinsi dengan arah kebijakan dan program yang dimiliki pemerintah kabupaten/kota. Kecenderungan yang terjadi, pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah provinsi Sumatera Selatan cenderung jalan sendiri-sendiri dalam mengembangkan sektor olahraga. Mereka hanya bertemu pada saat pelaksanaan Pekan Olahraga Daerah (PORDA).

Betul bahwa setiap kabupaten/kota memiliki potensi yang unik dan berbeda terkait dengan pengembangan atlet profesional (elite sports) di setiap cabang olahraga. Tetapi perbedaan ini tak bisa dijadikan alasan ketiadaan agenda bersama dalam mengembangkan olahraga secara berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip pasar. Saya yakin, jika muatan-muatan politis yang melekat inherent dalam tubuh kepala daerah dihilangkan sejenak dan lebih mengedepankan semangat sport for all, maka kolaborasi antar daerah lebih mungkin diwujudkan dalam rangka mengembangkan olahraga di Bumi Sriwijaya tanpa harus membebani dana APBD.

 

 

Referensi

Bergsgard, et.al., Nils Asle., 2007. Sport Policy: A comparative analysis of stability and change. Amsterdam, Elsevier.

Houlihan, Barrie., 1997. Sport, Policy and Politics: A comparative analysis. London, Routledge.

Hoye, Russell., Nicholson, Matthew., dan Houlihan, Barrie., 2010. Sport and Policy: Issues and analysis. Amsterdam, Elsevier.

*)Tulisan ini pernah dimuat di rubrik opini Sumatera Ekspress.

 

1 Komentar

Filed under Opini