Membaca Kisah Nabi Yusuf a.s dalam al-Quran

Saya mendengar cerita Nabi Yusuf a.s pertama kali ketika duduk di bangku sekolah dasar kelas lima, setara dengan kelas dua di madrasah diniyah. Sumber informasinya adalah salah satu guru saya di madrasah diniyah. Saya tidak perlu sebutkan namanya. Inti ceritanya adalah Nabi Yusuf a.s adalah nabi yang paling tampan di antara para nabi. Ia tampan tetapi beriman. Hanya itu yang saya ingat.

Kini, di usia empat puluh tahun, saya coba membaca ulang kisah Nabi Yusuf a.s yang termaktub dalam al-Quran. Saya berusaha menangkap makna beberapa peristiwa yang dialami Nabi Yusuf a.s. Makna ini, tentu saja, sangat dipengaruhi sudut pandang yang saya gunakan. Para pembaca boleh setuju atau tidak setuju dengan hal ini.

Inti argumentasi saya sebetulnya sederhana, yakni: pertama, Nabi Yusuf a.s adalah simbol korban. Di masa anak-anak, ia adalah korban perdagangan manusia. Di usia remaja, ia adalah korban kekerasan seksual yang kemudian membawanya menjadi korban hukum. Tiga topik ini tetap bisa kita temui hingga 2017 (saat tulisan ini dibuat).

Kedua, Nabi Yusuf a.s adalah leluhurnya Nabi Musa a.s. Nabi Yusuf a.s yang membawa Bani Izrail ke Mesir, sedangkan Nabi Musa a.s yang membawa mereka pergi meninggalkan Mesir. Meski berbeda zaman, nasib mereka agak mirip. Keduanya “terbuang” dari keluarga dan sama-sama mendarat di Mesir. Jika Nabi Yusuf a.s dibuang karena dipicu iri dan dengki, maka Nabi Musa a.s “dibuang” karena rasa keimanan kepada Allah SWT.

Ketiga, Nabi Yusuf a.s adalah sosok pejabat publik yang visioner. Ia adalah bapak perencanaan pembangunan karena mampu mengantisipasi situasi di masa depan dengan serangkaian tindakan sistematis. Ia menteri pertanian yang hebat karena mampu mengelola sektor pertanian Mesir yang dapat menyediakan makanan di saat normal dan di saat krisis. Ia juga menteri keuangan yang cerdas karena mampu membangun sistem perekonomian makro Mesir yang menahan krisis ekonomi akibat faktor alam. Melihat peran-peran Nabi Yusuf a.s ini, saya menduga posisi beliau adalah perdana menteri. Nabi Yusuf a.s adalah kepala pemerintahan, sedangkan Fir’aun adalah kepala negara.

Keempat, tidak hanya laki-laki yang menyenangi “daun muda” seperti disenandungkan Anggun C. Sasmi dalam Tua-Tua Keladi, perempuan juga memiliki kecenderungan seperti itu.

Kelima, saya tidak melihat perjuangan Nabi Yusuf a.s dalam mensyiarkan ajaran tauhid kepada orang banyak, kecuali kepada dua orang penghuni penjara yang satu ruangan dengan beliau. Sebaliknya, saya melihat ketangguhannya mengendalikan nafsu birahi, menghapuskan dendam, mengelola amanat Fir’aun yang ada di pundaknya, dan bersabar terhadap segala cobaan yang dialaminya.

Keenam, ketika masih balita hingga remaja, Nabi Yusuf a.s hidup di luar kekuasaan politik. Di usia remaja hingga dewasa, Nabi Yusuf a.s hidup dalam lingkaran kekuasaan politik Fir’aun. Bahasa lainnya, Nabi Yusuf a.s tidak hanya mengalami mobilitas horisontal, tetapi juga mobilitas vertikal. Puncak mobilitas vertikal itu terjadi ketika ia dipilih Fir’aun sebagai team leader untuk mengantisipasi krisis ekonomi akibat faktor alam. Nabi Yusuf a.s bisa melakukan beragam perubahan sosial di Mesir (misal, sistem pertanian dan pengendalian bahan makanan) karena ia memiliki kekuasaan politik yang absah (legitimate). Maka, merebut kekuasaan politik dan/atau berada dalam lingkaran kekuasaan itu penting artinya bagi umat Islam untuk melakukan perubahan-perubahan sosial yang sejalan dengan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW.

Tetapi, kekuasaan politik bukan satu-satunya alat untuk melakukan perubahan sosial. Facebook, Microsoft, dan Google misalnya, adalah contoh-contoh korporasi yang mampu mengubah perilaku kehidupan manusia modern. Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama, dan Rumah Zakat adalah contoh-contoh organisasi masyarakat yang juga melakukan perubahan sosial tanpa memanfaatkan kekuasaan politik.

Ketujuh, dari himpunan ayat al-Qur’an yang bercerita tentang Nabi Yusuf a.s hanya ada satu yang sangat “memberi bekas dalam jiwa” saya, yakni: …jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah orang-orang yang kafir (QS. Yusuf: 87). Mudah-mudahan ayat ini juga “memberi bekas dalam jiwa” para pembaca tulisan ini.

Iklan