Komentar tentang Permen DPDTT (Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi) Nomor 19 Tahun 2017 tentang Penetapan Prioritas Penggunaan Dana Desa Tahun 2018

Saya ingin mengomentari ketentuan yang termaktub dalam Bab III, Pasal 4, Ayat (4) berbunyi: Pembangunan sarana olahraga desa sebagaimana dimaksud ayat (3) merupakan unit usaha yang dikelola oleh BUM Desa atau BUM Desa Bersama.

Di wilayah perkotaan, sebagian sarana & prasarana olahraga adalah ruang swasta (private space) dan sebagian lagi adalah ruang publik (public space). Untuk masuk ke sarana olahraga yang bersifat ruang swasta, seseorang harus bayar. Contohnya adalah fasilitas gim, lapangan badminton, atau lapangan futsal. Sebaliknya, sarana olahraga yang bersifat ruang publik tidak mensyaratkan kesediaan dan/atau kemampuan membayar (want or ability to pay).

Esensi sarana dan prasarana olahraga di ruang swasta adalah jual beli. Untuk berpartisipasi dalam proses jual beli, seseorang harus memiliki uang. Tanpa uang, seseorang tidak bisa berpartisipasi dalam jual beli. Konsekuensinya, ketika sarana olahraga diatur dengan prinsip jual beli, maka tindakan diskriminatif bagi mereka yang tidak memiliki uang sulit dihindari. Sebab, hanya mereka yang memiliki uang yang bisa menikmati sarana dan prasarana olahraga tersebut. Ketentuan Pasal 4 Ayat 4 di atas turunan dari semangat ini. Sebagian orang menyatakan ide ini merupakan turunan dari neoliberalisme.

Seharusnya seperti apa? Menurut saya, khusus di desa, sarana dan prasarana olahraga jangan dijadikan sebagai salah satu unit usaha desa untuk mencari keuntungan. Sebaliknya, lapangan badminton, lapangan bola kaki, lapangan bola voli, lapangan futsal, dan sarana olahraga lainnya di desa harus di lihat sebagai alat untuk melayani warga desa. Patut juga diingat, olahraga itu adalah kebutuhan manusia. Jangan lupa, bagi penduduk desa, beragam lapangan olahraga ini adalah ruang sosial yang multi-fungsi (misalnya, ruang rekreasi, sarana silaturahmi, dan lain sebagainya).

Bagi saya, menyediakan sarana dan prasarana olahraga merupakan tanggung jawab konstitutional negara dan/atau pemerintah. Paragraf keempat Pembukaan UUD 1945 jelas menyebutkan tujuan dibentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah memajukan kesejahteraan umum. Salah satu unsur kesejahteraan itu adalah kesejahteraan fisik yang akan melahirkan kesejahteraan jiwa. Saya masih ingat guru olahraga saya sewaktu di sekolah dasar sering mengulang-ulang kalimat ini: mens sana in corpore sano (di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat).

Jadi, karena menyediakan sarana dan prasarana olahraga merupakan tanggung jawab konstitutional negara, maka wajib hukumnya pemerintah di setiap tingkatan menyediakan, memelihara, dan memfasilitasi aktivitas olahraga warganya. Jika tugas ini diserahkan dengan prinsip jual beli, maka pemerintah di semua tingkatan sebetulnya sedang melepaskan tanggung jawabnya yang diamanahkan Pembukaan UUD 1945.

Berarti, pemerintah di semua tingkatan harus menganggarkan dana untuk olahraga? Ya, benar sekali. Tapi, pemerintah bisa rugi pak. Ya saman, yang namanya pemerintah itu tidak pernah bisa rugi. Pemerintah itu hanya bisa surplus (berlebihan) atau defisit (kekurangan).

Pemerintah desa bisa saja menarik retribusi sebatas untuk menyediakan dana pemeliharaan/perawatan. Tetapi, jika tidak ingin pusing, pengelolaan sarana & prasarana olahraga ini diserahkan sepenuhnya ke kelompok-kelompok masyarakat yang menggunakan sarana prasarana tersebut. Di banyak tempat di Indonesia, hal inilah yang terjadi. Mereka mengelola sarana olahraga tersebut dengan prinsip kerelawanan/keikhlasan (voluntary). Sebagai contoh, kalau rumput liar di lapangan bola sudah panjang, anak-anak muda akan gotong royong untuk membersihkan rumput tersebut sebelum menggelar pertandingan antar dusun atau antar kampung. Nah, Pasal 4 Ayat (4) di atas sebetulnya sedang membunuh tradisi gotong royong ini.

Sekian dulu. Semoga bermanfaat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s