Tentang saya

Saya dilahirkan pada 18 Agustus 1978 dari seorang ayah yang bernama Nurdin bin Masrudin bin Abunawar bin Muhammad Thohir bin Hasan Basri dan ibu yang bernama Sayati binti Muhammad Yani bin Muhammad Jasse. Ketika saya lahir ke dunia, tutur ibunda tercinta, mereka sudah punya anak perempuan berumur 3 tahun. Namanya, Nurkholis. Tetapi, Allah SWT memangilnya ketika ia berumur 4 tahun. Sampai detik ini, saya tak pernah mampu membayangkan sosok dirinya.

Saya punya tiga saudara kandung. Semuanya laki-laki, yakni: Ardiansyah, Abdiansyah, dan Indra Tamsyah. Tak jelas, mengapa ayahanda begitu senang dengan nama yang berujung syah. Sewaktu saya duduk di sekolah menengah atas, persoalan ini pernah saya tanyakan ke beliau. Dengan ringan, beliau menjawab: syah itu berarti raja.

Seingat saya, ayahanda dan ibunda berprofesi sebagai pedagang besi. Mereka berdomisili di Kota Pagar Alam untuk menjual peralatan pertanian yang diproduksi penduduk Tanjung Dayang. Sampai tahun 1995, mayoritas mata pencaharian penduduk desa Tanjung Dayang adalah pandai besi, petani lebak/ladang, dan perkebunan tahunan.

Tahun 1978 adalah satu tahun setelah penyelenggaraan pemilihan umum kedua yang dilaksanakan rezim Orde Baru. Menurut literatur yang saya baca, tahun 1978 itu era pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) II. Indonesia, di bawah pimpinan Soeharto, sedang gencar-gencarnya membangun perekonomian bangsa Indonesia. Lima tahun kemudian, saya merasakan sisi positif dari langkah yang ditempuh rezim Orde Baru. Gedung sekolah SD saya sudah permanen. Lantainya semen. Atapnya juga sudah menggunakan genteng.

Masa kecil: anak lebak

Saya dibesarkan di Desa Tanjung Dayang Selatan, Kecamatan Indralaya Selatan, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Dulu, desa ini bernama Desa Tanjung Dayang, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan. Sebelumnya, Kabupaten Ogan Ilir merupakan bagian dari Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Pada 2003, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) dimekarkan menjadi Kabupaten Ogan Ilir dengan ibukota Indralaya.

Saya masuk sekolah dasar pada 1983. Dua tahun setelah pelaksanaan pemilihan umum ketiga di zaman Orde Baru, yakni Pemilu 1982. Tahun 1980-an, perekonomian sedang berada di puncaknya. Negara punya banyak duit untuk menawarkan kesejahteraan kepada seluruh rakyat Indonesia. Di zaman ini, banyak sekali program pemerintah yang berjudul “program Inpres” (instruksi presiden) diluncurkan pemerintah pusat ke seluruh Tanah Air. Duitnya berasal dari keuntungan perdagangan migas dikelola oleh Soeharto tanpa melalui APBN. Istilah kerennya, dana non-budgeter.

Kondisi perekonomian nasional berimbas dengan kehidupan saya di masa kecil. Ketika pertama kali pergi ke sekolah dasar, saya sudah menggunakan sepatu yang terbuat dari plastik. Kami menyebutnya sepatu sotik. Jika tidak menggunakan kaos kaki, jangan coba-coba menggunakan sepatu ini, karena kulitmu akan mengelupas. Saya juga sudah menggunakan seragam merah putih lengkap dengan topi dan dasinya. Tapi, saya belum punya tas sekolah. Tas sekolah saya waktu itu adalah kantong asoi (kantong kresek) yang berisi satu buku tulis, satu pensil, dan satu penghapus karet yang aromanya mirip permen.

Menurut cerita ibunda tercinta, saya tidak datang sendirian ke sekolah, tapi ditemani nenek tercinta, almarhumah Siti Rohmah binti Abdurrahman (ibu kandung ayahanda tercinta) selama kurang lebih satu minggu. Tasnya kantong asoy (kantong kresek) dan hanya menggunakan sandal jepit. Teman-teman yang lain juga seperti itu. Pulang dari sekolah sekitar jam 10 pagi. Selepas sekolah, tidak ada aktivitas lain kecuali bermain dengan temen-temen sebaya. Permainannya beragam dan tergantung musim. Semuanya gratis, tak perlu bayar.

Pada saat kelas 4 SD, saya berjualan es bedug di sekolah. Ba’da subuh saya dan sepupu mengambil es di rumah salah satu penduduk yang memproduksi es bedug. Waktu itu, tidak semua rumah punya kulkas. Di musim buah rambutan, saya menjual rambutan yang diambil dari kebun peninggalan kakek dari ayah. Kalau kebun rambutan sedang berbuah, saya biasanya tidur di pondok kecil yang ada di kebun. Tidurnya harus menggunakan kelambu karena nyamuknya banyak sekali. Niatnya sebetulnya ingin menjaga agar buah rambutan jangan sampai di curi orang. Praktiknya, begitu jam tidur sudah tiba, saya terlelap sampai subuh. Cuma, sensasi tidur di kebun rambutan itu luar biasa.

Di kelas 6 SD, saya (bersama Bai dan Idi) mewakili SD Negeri 02 Tanjung Dayang mengikuti lomba cerdas cermat antar sekolah dasar di Kecamatan Tanjung Batu. Tim kami kadang menang, kadang kalah. Tim kami tidak sampai ke TVRI. Yang sampai ke TVRI adalah tim SD Negeri 01 Tanjung Dayang. Tim SD Negeri 01 waktu itu adalah Nanang, Eva, dan Udin. Saya ingat sekali, tim kami pernah memecahkan gelas (yang difungsikan sebagai pengganti bel) ketika lomba memasuki soal rebutan.

Di musim hujan, ketika air lebak sedang besar, saya dan teman sebaya belajar berenang, main rakit yang terbuat dari batang pisang, naik perahu, main perang-perangan dan memancing. Di musim kemarau, kami biasa main bola kaki, mencari ikan di lebak, main kejar-kejaran (urian), main bola kasti, dan sebagainya. Di musim ramadhon, permainan semakin variatif karena jam bermain semakin panjang. Aktivitas sholat tarawih yang dilakukan orang dewasa di masjid menyebabkan kampung menjadi ramai hingga jam 9 malam. Moment ini kami manfaatkan untuk bermain di sekitar masjid. Yang jelas, saya merasa bahagia dengan beragam pengalaman selama masa kecil.

Banyak sekali istilah lokal untuk menamai beragam permainan ini. Mungkin, teman-teman sebaya yang membaca tulisan ini bisa mengingatkan beragam istilah tersebut di menu Leave a Replay.

Di usia sekolah dasar itu, aktivias belajar saya cukup padat. Kelas 1 s/d 3 SD, saya hanya belajar di sekolah dasar. Kelas 4 SD saya mulai belajar mengaji dengan Ustadz Kholil binti Zumro. Aktivitas mengaji dengan sistem turutan terjadi di antara pukul 16.00 WIB sampai dengan azan magrib. Sebelumnya, dari pukul 13.00 WIB s/d 15.00 WIB, sehabis pulang dari SD, saya mengikuti pelajaran di Madrasah Diniyah Nurul Islam sampai kelas 6 SD. Jadi, selepas tamat SD, saya punya dua pilihan: melanjutkan ke SMP dengan ijazah SD atau melanjutkan ke MTs Sakatiga dengan ijazah madrasah diniyah. Saya lebih memilih ke SMP karena tertarik dengan seragam putih biru dan bosan menggunakan kopiah.

Madrasah Diniyah itu mengajarkan saya banyak hal. Ada pelajaran nahwu-sorof yang paling kami takuti. Ada hafalan juz amma. Ada mata pelajaran Al-Quran & Hadist. Tetapi, mata pelajaran yang paling saya suka adalah tarekh (sejarah). Isinya, perjalanan hidup sosok Nabi Muhammad SAW, mulai dari lahir sampai ia wafat. Tarekh itu menjadi menarik karena Abah – semoga Allah SWT merahmati-Nya – yang mengajar mata pelajaran ini mampu bercerita dengan baik. Gangguan terbesar belajar di madrasah adalah sandiwara radio Misteri dari Gunung Merapi yang menceritakan pertempuran Mak Lampir dengan Sembara. Sandiwara ini mengudara pukul 14.00 WIB, persis ketika proses belajar di madrasah sedang berlangsung. Tak jarang, saya harus minggat dari kelas demi mendengarkan suara Mak Lampir yang menyeramkan. Begitu membekasnya cerita ini dalam memori saya sehingga ketika pertama kali melihat Gunung Merapi dengan mata telanjang dari Kampus UGM di Bulaksumur, yang saya ingat pertama kali adalah Sembara, Mak Lampir, dan Datuk Panglima Kumbang. Sayangnya, sampai keluar dari Kota Jogjakarta, saya tidak pernah menginjakkan kaki ke puncak Gunung Merapi.

Masa puber: beladas

Saya masuk SMP pada 1991. Tepatnya di SMP Negeri Meranjat. Lokasinya di Kampung 14, Desa Meranjat. Dari kelas 1 sampai kelas 3, saya ke sekolah bersepeda, melewati desa Beti dan Meranjat Ilir. Sebagian temen-temen ada yang naik angkot kuning. Ongkosnya waktu itu Rp100. Kalau hujan, saya ke sekolah naik angkot. Jika naik angkot, saya dikasih uang sangu sebesar Rp300. Peruntukkannya sederhana sekali: Rp200 untuk ongkos angkot (PP) dan Rp100 untuk uang jajan. Waktu itu, Rp100 bisa membeli satu gelas es jeruk/teh dan dua empek-empek. Jika ke sekolah dengan sepeda, saya dikasih uang sangu sebesar Rp100.

Di usia SMP, saya mulai belajar banyak hal: belajar mengemudikan sepeda motor, belajar main badminton, belajar membungkus (packing) alat-alat pertanian yang akan dikirim ke Pagar Alam, belajar muput, belajar nebas kebun, belajar ngerek, dan sebagainya. Bagi saya, masa sekolah menengah pertama adalah masa yang kelam. Prestasi akademik anjlok. Di kelas II SMP, saya mulai belajar merokok. Saya ingat betul pernah dipenjara ayahanda gara-gara ketahuan merokok.

Di usia ini, saya mencuri untuk pertama kalinya. Yang kami curi adalah buah kelapa kering yang masih menempel dipohonnya. Saya lakukan itu dengan dua orang teman. Pembagian tugasnya sederhana: yang satu memanjat pohon dan dua orang lainnya mengawasi jalan setapak dari arah yang berbeda. Kodenya sederhana: tepuk tangan sekali berarti tidak ada orang lewat, tepuk tangan tiga kali berarti ada orang lewat. Buah kelapa yang diambil maksimal enam. Jika dijual, hasil penjualannya cukup untuk membeli rokok Djarum 76 satu bungkus dan biaya nonton video film laga di rumah salah satu penduduk. Aktivitas itu berhenti tatkala menonton video semakin membosankan.

Saya ingat betul, rumah penduduk yang memiliki fasilitas alat memutar video hanya dua orang. Pertama, rumah Gusil. Kedua, rumah Nanang Pak Yusuf. Biaya sekali nonton adalah Rp100. Film yang diputar kebanyakan made in Indonesia. Waktu tayangnya adalah ba’da Isya. Menonton video menjadi aktivitas yang mengasyikkan karena televisi di rumah hanya bisa mengakses TVRI dengan program-program siaran yang sangat monoton.

Di usia ini, cara pandang saya terhadap perempuan mulai berubah. Saya mulai memahami makna istilah cantik, manis, dan indah yang sering muncul dalam percakapan orang dewasa. Di kelas III SMP, gelora hormon itu memaksa saya untuk menulis surat dengan salah satu perempuan di kelas II. Berhasilkah? He…he…he, biarkan ia menjadi rahasia selamanya. Dunia ini menjadi tidak indah jika seluruh rahasia terbuka dan diketahui banyak orang. Bukankah Allah SWT menyembunyikan jutaan rahasia hingga akhir zaman?

Tetapi, saya akan ceritakan bagaimana proses penulisan surat cinta pertama itu. Pertama, tentu saja, saya butuh kertas. Saya pergi ke Tanjung Raja untuk membeli kertas dan amplop yang memiliki aroma wewangian, dihiasi bunga, dan khusus dibuat untuk orang yang sedang kasmaran. Saya beli satu lembar beserta amplopnya. Kedua, saya butuh kata-kata yang akan dituliskan di kertas. Problem terbesarnya ada di sini. Pernah nonton film yang aktornya gonta-ganti kertas karena kalimat yang ditulisnya dianggapnya salah? Itulah gambaran yang paling tepat untuk menceritakan bagaimana sulitnya menulis surat cinta pertama. Tak terasa, kamar tidur dipenuhi dengan remukan kertas. Lembaran kertas itu menjadi korban jiwa remaja yang sedang jatuh cinta. Pelajaran mengarang bebas yang diajarkan guru di sekolah menjadi tidak berarti, karena kata-kata begitu liar untuk dirangkai dengan indah.

Di SMP, saya ikut pramuka. Setiap minggu, saya dan temen-temen latihan di sekolah. Tali-temali, baris berbaris, dan belajar morse menjadi menu yang mengasyikkan. Selama di SMP, saya hanya satu kali mengikuti perkemahan yang dilaksanakan di halaman sekolah. Kalau tidak salah ingat, perkemahan tersebut dilaksanakan dua hari (sabtu-minggu). Bukan main hebohnya acara ini. Masak nasi sendiri, mandi di lebak, beragam permainan khas pramuka, dan tak ketinggalan api unggun. Ada sensasi yang unik bisa tidur di bawah tenda bersama teman-teman di alam bebas.

Saya lulus SMP dengan nilai pas-pasan. Hampir saja nilai NEM (Nilai Ebtanas Murni) saya tidak mencukupi untuk masuk SMA Negeri 1 Tanjung Batu dan SMA Negeri 1 Indralaya. Waktu itu, rayon kami hanya dua SMA ini. Ada satu lagi SMA, yakni SMAN 1 Tanjung Raja. Ia SMA Negeri paling tua di Kabupaten Ogan Ilir (waktu itu masih bergabung dengan Kabupaten Ogan Komering Ilir), tetapi bukan rayon SMP Negeri Meranjat. Saya mendaftar ke SMAN 1 Indralaya karena faktor jarak yang relatif dekat. Kalau dulu, zaman belum macet, dari dusun saya hanya butuh waktu sekitar 60 menit untuk sampai ke lokasi SMA.

Tetapi, nilai NEM SMP yang kecil itu betul-betul menyadarkan saya. Suara hati saya memberontak. Saya yakin, saya bisa lebih baik dari ini. Sejak itu, saya mulai berubah 100 derajat. Tetapi, perubahan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Meninggalkan kebiasaan lama dan menumbuhkan kebiasaan baru bukan hanya membutuhkan tekad yang kuat, tetapi disiplin, istiqomah, dan ridho orang tua. Di bangku SMA, visi saya tentang kehidupan mulai bergeser sedikit demi sedikit seiring dengan bertambahnya usia, pengalaman, dan pengetahuan.

Masa remaja: sengsara membawa nikmat

Bagi sebagian teman, seragam abu-abu identik dengan kegembiraan. Bagi saya, bangku SMA itu dunia yang penuh dengan perjuangan lahir dan batin. Meskipun pahit, buahnya manis sekali. Perjuangan itu mengantarkan saya bisa kuliah di FISIPOL UGM, melanjutkan jejak langkah beberapa orang dari dusun saya yang pernah kuliah di UGM. Tentu saja, ini adalah skenario dan karunia dari Allah SWT. Nanti saya ceritakan lebih detail bagaimana Allah SWT membimbing langkah-langkah saya tanpa saya sadari. Saya baru sadar ketika menuangkannya di blog ini. Oklah, tak mengapa jika saya dianggap telmi (telat mikir) karena terlanjur baper (bawa perasaan).

Bersambung…

Iklan

8 tanggapan untuk “Tentang saya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s